Sebagai kepala rumah tangga saya belum mendapat E KTP lho. Padahal Ipung selaku anggota saya sudah duluan memegang ID Card eletronik itu.
Fotonya bareng-reng tapi hasilnya kok nggak kompak ya.
Apa mungkin keluarnya E KTP diurutkan bulan kelahiran pemegangnya? Kalau benar begitu ya sudah nggak apa-apa. Pak RT ku juga belum dapat kok
Mudah-mudahan saat memperpanjang STNK bulan Juni nanti semuanya lancar walau tanpa E-KTP.
Yang maknyus adalah ketika membuat kartu NPWP. Prosesnya cepat, tak sampai sehari sudah jadi. Cukup membawa KTP, menunggu sebentar dan jreng..sayapun sudah mengantongi kartu ciamik tersebut.
Kenapa tiba-tiba saya mengurus kartu NPMP ? Yup, ini berkaitan dengan buku saya yang sedang dalam proses penerbitan di sebuah penerbit mayor. Ketika saya mengirimkan data penulis pihak penerbit mengatakan bahwa jika tidak mempunyai NPWP maka potongan royalti buku yang akan saya terima cukup besar yaitu sekitar 30%. Mereka memberikan solusi agar saya memakai alamat /rekening famili yang sudah memiliki kartu NPWP. Nah daripada memakai alamat dan rekening famili kan lebih baik membuat kartu sendiri yang tentu akan ada manfaat yang lain. Selidik punya selidik ternyata saya pernah punya kartu NPWP ketika masih dinas di Surabaya. Ketlisut nich ye. Selengkapnya
May 26, 2013 ≈ Potret ≈ 4 Comments
Aksesoris wanita sebagai pelengkap busana yang dikenakannya sudah dikenal sejak dulu. Tas, kalung, gelang, dan anting paling sering dipakai kaum hawa untuk lebih memperindah tampilannya.
Di lingkungan orang Jawa terdapat paribasan (peribahasa) berbunyi:”ajining diri soko ing lati, ajining rogo soko busono”. Kalimat apik tersebut secara harfiah mengandung pengertian bahwa pribadi seseorang akan berharga atau terhormat karena ucapan atau perkataannya. Sedangkan secara fisik manusia akan dihargai atau dihormati karena busana alias pakaian yang dikenakannya. Dalam suatu resepsi pernikahan, misalnya, seorang laki-laki yang berpakaian jas lengkap dan menggandeng wanita ayu berkebaya dan berkonde bunder lengkap dengan aneka aksesoris pada umumnya akan segera disambut oleh penerima tamu dengan penuh hormat. Sementara anak muda yang datang dengan kaos-oblong dan jeans sobek-sobek bokong dan dengkulnya barangkali akan dirasani oleh mereka.”Ini undangan resepsi atau bagian usung-usung,Rek,” begitu canda mereka. Selengkapnya
May 25, 2013 ≈ Gaya hidup ≈ 12 Comments
Dalam artikel berjudul Semalam di Yogyakarta telah saya ceritakan bahwa malam itu saya muter-muter di kawasan kraton dan sekitarnya dengan ditemani Pak So.
Ketika di hotel saya memang langsung naik becak tanpa terlebih dahulu menanyakan ongkosnya. Ini memang di luar kebiasaan. Pada umumnya saya menanyakan ongkos terlebih dulu guna mengetahui seberapa jauh jarak yang akan ditempuh dan memastikan bahwa di dompet ada uang sejumlah yang dimintanya. Terkadang saya megikuti pola ibu-ibu yaitu menawar dari ongkos yang dilontarkan oleh tukang becak. Menawar itu memang mengasyikkan dan ada sensasi tersendiri sih. Namun pada akhirnya sayapun tetap memberikan ongkos lebih dari yang disodorkan oleh mereka. Selengkapnya
May 24, 2013 ≈ Mimbar Jum'at ≈ 15 Comments