Herman Willem Daendels,karyanya berbalut noda dan derita

HW  DAENDELSKetika kata Grote Postweg (Bahasa Belanda) ini saya masukkan kedalam box Google translator maka muncul kata utama raya (Bahasa Indonesia). Padahal terjemahan bebasnya adalah Jalan Raya Pos. Inilah nama beken jalan raya sepanjang kurang lebih 1000 km sepanjang Anyer sampai Panarukan yang dibangun atas prakarsa dan perintah Herman William Daendels yang menjabat sebagai Gubernur Jenderal di Hindia Timur.

KM 0  ANYER PANARUKAN

Tentu, jalan raya ini dibangun untuk kepentingan pemerintahan Daendels  sehingga transportasi sepanjang pulau Jawa akan lancar, termasuk untuk kepentingan militer. Dengan jalan raya pos ini maka mobilitas pasukan Belanda akan lebih cepat guna menghadapi serangan musuh. Jalan raya pos ini menghubungkan kota-kota di pulau Jawa sepanjang pantai utara sehingga cocok dijadikan route perbekalan utama.

Pramudya Ananta Toer dalam bukunya berjudul “Jalan Raya Pos”, mencoba menceritakan penderitaan rakyat Indonesia ini. ” Penduduk desa harus bekerja rodi membuat jalan itu dan bila menolak maka mereka akan digantung”, kata Prama di Pusat Kebudayaan Prancis, Jalan Salemba Raya Rabu (5/10/2005).

Siapa yang menyerahkan ratusan ribu penduduk itu untuk melaksanakan kerja paksa atau kerja rodi ?  Siapa lagi kalau bukan para penguasa kita.

Daendels memaksa setiap penguasa lokal sepanjang jalur yang direncanakan itu untuk mengerahkan rakyatnya membangun jalan yang diinginkan.  Dia menetapkan target produksi di mana jika target ini tidak tercapai maka para penguasa lokal dan rakyatnya akan dibunuh. Potongan kepala mereka digantung di pohon di sepanjang jalan. Daendels menjalankan kebijakannya ini dengan keras dan kejam.

Memang, kini kita bisa menikmati jalan karya Daendels, pemerintah Indonesia juga tidak perlu bersusah-payah membuka lahan. Kita hanya tinggal memelihara, memperbaiki dan menambah jalan-jalan baru sepanjang poros Anyer-Panarukan. Namun harus selalu kita ingat bahwa karya Daendels ini berlumuran darah, tetesan keringat dan derita ratusan ribu manusia Indonesia. Sebuah karya besar yang berbalut noda dan derita.

PETA JALAN RAYA ANYER PANARUKAN

Foto :

-Titik O Anyer-Panarukan.  flickr.com/photos/erick-f1

- Peta. polygoncycle.com

- Daendels. nederlandsindie.com

 

20 Comments

Skip to Comment Form ↓
  1. wieda says:

    jingkrak2 doloooooooooo

    ck..ck…ck…pertamax lageeeeee….pertamax lageeee
    (minta hadiah ah…)

    Yup Pakdhe..setiap saat dari Bali ke Surabaya…saya selalu mengenang jalan Daendel ini
    dan duluuu selalu ikutan mikir..orang2 yg disuruh kerja paksa tanpa dikasih makan

    wuihhhh ndak enak banget dijajah
    .-= wieda´s last blog ..Quadra Island =-.

    Wuuuuu, kalau ada foto ganteng langsung pertamax..ha..ha.
    Kita bayangkan ya mbak bagaimana menderitanya para pekerja rodi itu. Ngenes

  2. Edda says:

    1000 km? Kapan nympe ujungnya tu pakde? :O
    ya ampun, bsa2 nympenya staun kali ya, kalo jalan kaki,haha
    makanya ada papan peringatan ” Dilarang jalan kaki sepanjang Anyer-Panarukan, kecuali mbawa makanan dan minuman yang enak-enak “

  3. guskar says:

    benar dhe, saya membaca buku Pram itu seperti terlarut di dalamnya karena ternyata rakyat negeri ini jd “tumbal” ambisi gubernur jenderal daendels.
    tp mmg harus diakui ini suatu prestasi yang luar biasa pada zamannya. Karena itulah nama Daendels dan Jalan Raya Pos dikenal dan mendunia hingga kini.
    tambahan info saja : jalan yg dibuat selain anyer-panarukan adalah jalur bogor – sukabumi – cianjur- sumedang – cirebon.
    artikel bagus yang dibuat pakdhe ini telah menggungah patriotisme kita di bulan proklamasi ini.
    .-= guskar´s last blog ..Ketika Wawancara Kerja =-.

    Benar mas, hanya dibuat selama setahun saja lho, pemborongnya ya rakyat kita kok, makanya banyak yang mati.

  4. phiy says:

    jahatnya :cry:
    tapi yang lebih jahat ya kita2 ini.
    Soalnya kan banyak tuh oenginggalan belanda yang dibikinnya pake nyawa. Tapi orang2 yang skarang malah males ngejaganya :(

    bener mbak, vandalisme juga kita ini. kalau ” Gimo love Tarmi “, mbok jangan ditulis di tembok2 sekolah ya..

  5. cenya95 says:

    Noda dan derita merupakan perjuangan untuk menggapai sebuah harapan. Memang hidup penuh perjuangan. ;-)
    Mari jaga agar harapan itu tak hilang, tanpa bernoda dan menderita. Mampukah ? Kita pasti bisa …
    salam superhangat
    .-= cenya95´s last blog ..Mencari Ide, Mencari Segi =-.

    Menderita untuk mencapai cita2 boleh, tetapi jangan sampai ada noda. Misalnya di ijazah nilainya 9,10,9,10, tetapi seminggu kemudian ditangkap polisi karena nilai itu hasil seorang joki….ternoda deh

  6. Den Mas says:

    Kalau nggak salah, tokoh ini sering disebut2 dalam bukunya pram, ya Pak Dhe? Tapi saya lupa di buku yang mana saja. Kalau buku Jalan Raya Pos ini belum sempat beli, tapi sudah masuk list untuk dibeli :D
    BTW, koq pembangunan jaman belanda koq lebih pro rakyat ya Pak Dhe? Termasuk irigasi dan bendungan di daerah2
    .-= Den Mas´s last blog ..AROK DEDES, CATUR PERUSAK MITOS =-.

    Pembangunan jaman Belanda ya untuk kepentingan Belanda, misalnya untuk jalur ekonomi dan militer. Semua pembangunan intinya untuk Belanda, kita nebeng menikmati.

  7. nakjaDimande says:

    pedih pasti ya pakde.. hidup di jaman itu
    aku jadi bisa mengerti mengapa kita begitu sulit melepaskan mental terjajah itu, selalu biarkan diri terjajah.. saking sudah merasa biasa mungkin :)

    Sudah saatnya generasi muda bermental pejuang disegala bidang, jangan mindeeeeeer saja ya mbak.

  8. Deka says:

    saya gak tahu jalannya…
    .-= Deka´s last blog ..Sayang Noordin M Top Tewas
    =-.

    Masuk lewat cikapundung, trus menyusuri jl. Stasiun, nah dekat stasiun itu ada warung sate kambing Pak Sariyan, enak lho mas.

  9. ~noe~ says:

    di selatan jawa juga ada jalan daendels. apakah ini juga termasuk peninggalan dia?
    yang mengherankan, jumlah tentara belanda secara kuantitas kalah banyak dibanding penduduk lokal, tapi kenapa kita tetap tidak bisa melawan, ya.
    barangkali kalo nurdin markotop hidup di masa itu, daendels bakal belingsatan…
    .-= ~noe~´s last blog ..18 Menit Saja =-.

    Menurut sejarah, jalan raya pos dibangun di jalan pantura karena untuk menghadapi musuh yang datang dari utara Jawa.
    Penduduk Kita banyak tetapi senjatanya hanya sabit, makanya dibabat oleh senapan dan meriam belanda.

  10. Bang Dje says:

    Rumah kakekku di Semarang dulu dilalui jalan ini juga. Dari cerita para senior, dulu jalan ini sangat mulus dan teduh karena diayomi pohon asem besar2 di sepanjang kiri kanan jalan. Sekarang pohon asem dah ditebang dan jalan dah diperlebar. Hasilnya jalanan sangat panas dan tidak bersahabat dengan pejalan kaki.

    Pelebaran jalan sebaiknya dibarengi dengan penanaman pohon peneduh sehingga tetap nyaman untuk pejalan kaki. Pohon asem yang sdah 100 tahun lebih rawan roboh, kan dah banyak kasus robohnya pohon dipinggir jalan mas.

  11. Aldy says:

    dari satu sisi pembangunan yang dilakukan belanda memang menyisakan penderitaan yang panjang, terutama masyarakat yang terlibat didalamnya. Tetapi dari sisi lain kita juga melihat bagaimana kualitas bangunan yang dibuat belanda, bandingkan dengan proyek2 pemerintah dijaman sekarang….hwahhhhhh, cuapek dech….
    .-= Aldy´s last blog ..Setengah Juta, Bukan Enam Ratus Ribu =-.

    bener mas, kalau membuat jendela besarnya sak pintu kita yaaa, kokoh kuat banget kok.

  12. kawanlama95 says:

    sambil mengingat sejarah masa lalu yang patut dikenang sepanjang masa. dan ternyata jalan itu berguna. Selamat siang pak
    .-= kawanlama95´s last blog ..Agenda yang tercecer sebelum Romadhon tiba =-.

    Selamat siang mas, menjelang HUT RI, kita bangkitkan semangat dan patriotisme kita

  13. isnuansa says:

    Jalanan yang biasa saya lalui ketika mudik. Tapi selama ini nggak pernah mengenang penderitaan yang mbikin :cry:
    .-= isnuansa´s last blog ..5 Sebab Blog Anda Sepi Komentar =-.

    ratusan ribu nyawa melayang sebagai tumbal negara mbak hix hix hix

  14. kolojengking says:

    Kalo orang awam bilang, jalan itu sudah banyak makan nyawa orang…
    Tapi kok kita masih sering lihat orang2 yang suka ugal2an di jalan pak dhe ya? Apa mereka pengin jad “tumbal” selanjutnya? :???:
    Salam pak Dhe… :smile:
    .-= kolojengking´s last blog ..Saya dan photoshop itu… =-.

    Benar sekali, apalagi pasukan sepeda motor, wuihhhh, takut melihatnya. keponakan isteri saya tadi meninggal dunia setelah koma 2 minggu, tabrakan dengan sepeda motor, suaminya besok operasi. kasian banget.

  15. Vyan RH says:

    Itulah pahlawan pejuang, yang ketika mati:
    Tanpa bintang jasa Mahaputera Adipradana,
    Tanpa iringan genderang,
    Tanpa tembakan salvo,
    Tanpa dentuman meriam,
    Tanpa rangkaian bunga,
    Hanya ada do’a “selamat jalan pahlawan ku”.
    .-= Vyan RH´s last blog ..Hanacaraka, huruf Jawa yang tinggal kenangan =-.

    mereka tumbal revolusi bangsa ya mas, patut kita acungin jempol pengorbanan mereka

  16. Acha says:

    sebuah karya yang bersejarah…
    semoga tetesan darah dan keringat mereka tidak sia-sia…
    mumpung suasana agustusan, sy ingin berteriak, namun gak keras2 deh pak..:
    Merdekaaa!
    _salam anget_

    Benar, sayangnya ternoda oleh kekejamannya ya mas.
    MERDEKA MERDEKA MERDEKA

  17. dinoyudha says:

    Mungkin, sebagian dari mereka yang membangun jalan itu adalah nenek moyang kita. Mengapa penjajah diberi tempat hidup di muka bumi ini? Bahkan bangsa sebengis israel masih saja dielu-elukan di dunia. Semoga Allah merahmati mujahid di Palestine.
    .-= dinoyudha´s last blog ..ngeBlog isn’t a crime =-.

    Itulah yang saya herankan mas,ada perang yang sampai puluhan tahun nggak selesai2, PBB ngapain aja ya ??

  18. adirossi says:

    Kalo dulu yang menjajah Indonesia adalah bangsa asing, tapi sekarang yang jajah justru orang bangsa sendiri, seperti koruptor, teroris dsb :evil:
    .-= adirossi´s last blog ..Google dan Hujan Meteor Perseid =-.

    bukan jajah tapi jajan, maksudnya korupsi untuk jajan rumah,tanah,mobil dan lain-lainnya.

  19. Blogodolar says:

    Ingat Daendels, jadi ingat kampung halaman di Sumedang, di mana ada patung antara Pangeran Geusan Ulun (raja Sumedang) sedang bersalaman dengan Daendels.

    Tugu ini dibuat di daerah Cadas Pangeran, yaitu wilayah yang dulunya merupakan rute jalan Anyer-Panarukan. Banyak korban, wong cadas yang digali, sementara alat yang digunakan cangkul dan linggis.
    Memang, kerja rodi itu membawa petaka…
    Salam dari orang Sumedang yang lagi merantau di Sorowako Sulawesi Selatan

    Benar mas, karyanya memang luar biasa, hanya setahun, tetapi ratusan ribu bangsa kita sebagai tumbalnya.

  20. [...] sahabat sudah saya ajak untuk membayangkan kekejaman para penjajah, baik dimasa penjajahan Belanda maupun Jepang, membayangkan bagaimana situasi menjelang, sewaktu dan setelah proklamasi, termasuk [...]