Friday, September 03, 2010
Ngeblog sing Enak tapi gak sak Enake

Herman Willem Daendels,karyanya berbalut noda dan derita

HW  DAENDELSKetika kata Grote Postweg (Bahasa Belanda) ini saya masukkan kedalam box Google translator maka muncul kata utama raya (Bahasa Indonesia). Padahal terjemahan bebasnya adalah Jalan Raya Pos. Inilah nama beken jalan raya sepanjang kurang lebih 1000 km sepanjang Anyer sampai Panarukan yang dibangun atas prakarsa dan perintah Herman William Daendels yang menjabat sebagai Gubernur Jenderal di Hindia Timur.

KM 0  ANYER PANARUKAN

Tentu, jalan raya ini dibangun untuk kepentingan pemerintahan Daendels  sehingga transportasi sepanjang pulau Jawa akan lancar, termasuk untuk kepentingan militer. Dengan jalan raya pos ini maka mobilitas pasukan Belanda akan lebih cepat guna menghadapi serangan musuh. Jalan raya pos ini menghubungkan kota-kota di pulau Jawa sepanjang pantai utara sehingga cocok dijadikan route perbekalan utama.

Pramudya Ananta Toer dalam bukunya berjudul “Jalan Raya Pos”, mencoba menceritakan penderitaan rakyat Indonesia ini. ” Penduduk desa harus bekerja rodi membuat jalan itu dan bila menolak maka mereka akan digantung”, kata Prama di Pusat Kebudayaan Prancis, Jalan Salemba Raya Rabu (5/10/2005).

Siapa yang menyerahkan ratusan ribu penduduk itu untuk melaksanakan kerja paksa atau kerja rodi ?  Siapa lagi kalau bukan para penguasa kita.

Daendels memaksa setiap penguasa lokal sepanjang jalur yang direncanakan itu untuk mengerahkan rakyatnya membangun jalan yang diinginkan.  Dia menetapkan target produksi di mana jika target ini tidak tercapai maka para penguasa lokal dan rakyatnya akan dibunuh. Potongan kepala mereka digantung di pohon di sepanjang jalan. Daendels menjalankan kebijakannya ini dengan keras dan kejam.

Memang, kini kita bisa menikmati jalan karya Daendels, pemerintah Indonesia juga tidak perlu bersusah-payah membuka lahan. Kita hanya tinggal memelihara, memperbaiki dan menambah jalan-jalan baru sepanjang poros Anyer-Panarukan. Namun harus selalu kita ingat bahwa karya Daendels ini berlumuran darah, tetesan keringat dan derita ratusan ribu manusia Indonesia. Sebuah karya besar yang berbalut noda dan derita.

PETA JALAN RAYA ANYER PANARUKAN

Foto :

-Titik O Anyer-Panarukan.  flickr.com/photos/erick-f1

- Peta. polygoncycle.com

- Daendels. nederlandsindie.com

No related posts.



20 Comments

  1. Comments  wieda   |  Tuesday, 11 August 2009 at 06:08

    jingkrak2 doloooooooooo

    ck..ck…ck…pertamax lageeeeee….pertamax lageeee
    (minta hadiah ah…)

    Yup Pakdhe..setiap saat dari Bali ke Surabaya…saya selalu mengenang jalan Daendel ini
    dan duluuu selalu ikutan mikir..orang2 yg disuruh kerja paksa tanpa dikasih makan

    wuihhhh ndak enak banget dijajah
    wieda´s last blog ..Quadra Island

    Wuuuuu, kalau ada foto ganteng langsung pertamax..ha..ha.
    Kita bayangkan ya mbak bagaimana menderitanya para pekerja rodi itu. Ngenes
    My ComLuv Profile

  2. Comments  Edda   |  Tuesday, 11 August 2009 at 06:53

    1000 km? Kapan nympe ujungnya tu pakde? :O
    ya ampun, bsa2 nympenya staun kali ya, kalo jalan kaki,haha
    makanya ada papan peringatan ” Dilarang jalan kaki sepanjang Anyer-Panarukan, kecuali mbawa makanan dan minuman yang enak-enak “

  3. Comments  guskar   |  Tuesday, 11 August 2009 at 07:43

    benar dhe, saya membaca buku Pram itu seperti terlarut di dalamnya karena ternyata rakyat negeri ini jd “tumbal” ambisi gubernur jenderal daendels.
    tp mmg harus diakui ini suatu prestasi yang luar biasa pada zamannya. Karena itulah nama Daendels dan Jalan Raya Pos dikenal dan mendunia hingga kini.
    tambahan info saja : jalan yg dibuat selain anyer-panarukan adalah jalur bogor – sukabumi – cianjur- sumedang – cirebon.
    artikel bagus yang dibuat pakdhe ini telah menggungah patriotisme kita di bulan proklamasi ini.
    guskar´s last blog ..Ketika Wawancara Kerja

    Benar mas, hanya dibuat selama setahun saja lho, pemborongnya ya rakyat kita kok, makanya banyak yang mati.My ComLuv Profile

  4. Comments  phiy   |  Tuesday, 11 August 2009 at 08:00

    jahatnya :cry:
    tapi yang lebih jahat ya kita2 ini.
    Soalnya kan banyak tuh oenginggalan belanda yang dibikinnya pake nyawa. Tapi orang2 yang skarang malah males ngejaganya :(

    bener mbak, vandalisme juga kita ini. kalau ” Gimo love Tarmi “, mbok jangan ditulis di tembok2 sekolah ya..

  5. Comments  cenya95   |  Tuesday, 11 August 2009 at 08:43

    Noda dan derita merupakan perjuangan untuk menggapai sebuah harapan. Memang hidup penuh perjuangan. ;-)
    Mari jaga agar harapan itu tak hilang, tanpa bernoda dan menderita. Mampukah ? Kita pasti bisa …
    salam superhangat
    cenya95´s last blog ..Mencari Ide, Mencari Segi

    Menderita untuk mencapai cita2 boleh, tetapi jangan sampai ada noda. Misalnya di ijazah nilainya 9,10,9,10, tetapi seminggu kemudian ditangkap polisi karena nilai itu hasil seorang joki….ternoda dehMy ComLuv Profile

  6. Comments  Den Mas   |  Tuesday, 11 August 2009 at 09:10

    Kalau nggak salah, tokoh ini sering disebut2 dalam bukunya pram, ya Pak Dhe? Tapi saya lupa di buku yang mana saja. Kalau buku Jalan Raya Pos ini belum sempat beli, tapi sudah masuk list untuk dibeli :D
    BTW, koq pembangunan jaman belanda koq lebih pro rakyat ya Pak Dhe? Termasuk irigasi dan bendungan di daerah2
    Den Mas´s last blog ..AROK DEDES, CATUR PERUSAK MITOS

    Pembangunan jaman Belanda ya untuk kepentingan Belanda, misalnya untuk jalur ekonomi dan militer. Semua pembangunan intinya untuk Belanda, kita nebeng menikmati.My ComLuv Profile

  7. Comments  nakjaDimande   |  Tuesday, 11 August 2009 at 10:26

    pedih pasti ya pakde.. hidup di jaman itu
    aku jadi bisa mengerti mengapa kita begitu sulit melepaskan mental terjajah itu, selalu biarkan diri terjajah.. saking sudah merasa biasa mungkin :)

    Sudah saatnya generasi muda bermental pejuang disegala bidang, jangan mindeeeeeer saja ya mbak.

  8. Comments  Deka   |  Tuesday, 11 August 2009 at 10:43

    saya gak tahu jalannya…
    Deka´s last blog ..Sayang Noordin M Top Tewas

    Masuk lewat cikapundung, trus menyusuri jl. Stasiun, nah dekat stasiun itu ada warung sate kambing Pak Sariyan, enak lho mas.My ComLuv Profile

  9. Comments  ~noe~   |  Tuesday, 11 August 2009 at 11:03

    di selatan jawa juga ada jalan daendels. apakah ini juga termasuk peninggalan dia?
    yang mengherankan, jumlah tentara belanda secara kuantitas kalah banyak dibanding penduduk lokal, tapi kenapa kita tetap tidak bisa melawan, ya.
    barangkali kalo nurdin markotop hidup di masa itu, daendels bakal belingsatan…
    ~noe~´s last blog ..18 Menit Saja

    Menurut sejarah, jalan raya pos dibangun di jalan pantura karena untuk menghadapi musuh yang datang dari utara Jawa.
    Penduduk Kita banyak tetapi senjatanya hanya sabit, makanya dibabat oleh senapan dan meriam belanda.
    My ComLuv Profile

  10. Comments  Bang Dje   |  Tuesday, 11 August 2009 at 11:05

    Rumah kakekku di Semarang dulu dilalui jalan ini juga. Dari cerita para senior, dulu jalan ini sangat mulus dan teduh karena diayomi pohon asem besar2 di sepanjang kiri kanan jalan. Sekarang pohon asem dah ditebang dan jalan dah diperlebar. Hasilnya jalanan sangat panas dan tidak bersahabat dengan pejalan kaki.

    Pelebaran jalan sebaiknya dibarengi dengan penanaman pohon peneduh sehingga tetap nyaman untuk pejalan kaki. Pohon asem yang sdah 100 tahun lebih rawan roboh, kan dah banyak kasus robohnya pohon dipinggir jalan mas.

  11. Comments  Aldy   |  Tuesday, 11 August 2009 at 11:45

    dari satu sisi pembangunan yang dilakukan belanda memang menyisakan penderitaan yang panjang, terutama masyarakat yang terlibat didalamnya. Tetapi dari sisi lain kita juga melihat bagaimana kualitas bangunan yang dibuat belanda, bandingkan dengan proyek2 pemerintah dijaman sekarang….hwahhhhhh, cuapek dech….
    Aldy´s last blog ..Setengah Juta, Bukan Enam Ratus Ribu

    bener mas, kalau membuat jendela besarnya sak pintu kita yaaa, kokoh kuat banget kok.My ComLuv Profile

  12. Comments  kawanlama95   |  Tuesday, 11 August 2009 at 13:47

    sambil mengingat sejarah masa lalu yang patut dikenang sepanjang masa. dan ternyata jalan itu berguna. Selamat siang pak
    kawanlama95´s last blog ..Agenda yang tercecer sebelum Romadhon tiba

    Selamat siang mas, menjelang HUT RI, kita bangkitkan semangat dan patriotisme kitaMy ComLuv Profile

  13. Comments  isnuansa   |  Tuesday, 11 August 2009 at 14:42

    Jalanan yang biasa saya lalui ketika mudik. Tapi selama ini nggak pernah mengenang penderitaan yang mbikin :cry:
    isnuansa´s last blog ..5 Sebab Blog Anda Sepi Komentar

    ratusan ribu nyawa melayang sebagai tumbal negara mbak hix hix hixMy ComLuv Profile

  14. Comments  kolojengking   |  Tuesday, 11 August 2009 at 14:55

    Kalo orang awam bilang, jalan itu sudah banyak makan nyawa orang…
    Tapi kok kita masih sering lihat orang2 yang suka ugal2an di jalan pak dhe ya? Apa mereka pengin jad “tumbal” selanjutnya? :???:
    Salam pak Dhe… :smile:
    kolojengking´s last blog ..Saya dan photoshop itu…

    Benar sekali, apalagi pasukan sepeda motor, wuihhhh, takut melihatnya. keponakan isteri saya tadi meninggal dunia setelah koma 2 minggu, tabrakan dengan sepeda motor, suaminya besok operasi. kasian banget.My ComLuv Profile

  15. Comments  Vyan RH   |  Tuesday, 11 August 2009 at 18:45

    Itulah pahlawan pejuang, yang ketika mati:
    Tanpa bintang jasa Mahaputera Adipradana,
    Tanpa iringan genderang,
    Tanpa tembakan salvo,
    Tanpa dentuman meriam,
    Tanpa rangkaian bunga,
    Hanya ada do’a “selamat jalan pahlawan ku”.
    Vyan RH´s last blog ..Hanacaraka, huruf Jawa yang tinggal kenangan

    mereka tumbal revolusi bangsa ya mas, patut kita acungin jempol pengorbanan merekaMy ComLuv Profile

  16. Comments  Acha   |  Tuesday, 11 August 2009 at 22:52

    sebuah karya yang bersejarah…
    semoga tetesan darah dan keringat mereka tidak sia-sia…
    mumpung suasana agustusan, sy ingin berteriak, namun gak keras2 deh pak..:
    Merdekaaa!
    _salam anget_

    Benar, sayangnya ternoda oleh kekejamannya ya mas.
    MERDEKA MERDEKA MERDEKA

  17. Comments  dinoyudha   |  Wednesday, 12 August 2009 at 03:49

    Mungkin, sebagian dari mereka yang membangun jalan itu adalah nenek moyang kita. Mengapa penjajah diberi tempat hidup di muka bumi ini? Bahkan bangsa sebengis israel masih saja dielu-elukan di dunia. Semoga Allah merahmati mujahid di Palestine.
    dinoyudha´s last blog ..ngeBlog isn’t a crime

    Itulah yang saya herankan mas,ada perang yang sampai puluhan tahun nggak selesai2, PBB ngapain aja ya ??My ComLuv Profile

  18. Comments  adirossi   |  Wednesday, 12 August 2009 at 13:04

    Kalo dulu yang menjajah Indonesia adalah bangsa asing, tapi sekarang yang jajah justru orang bangsa sendiri, seperti koruptor, teroris dsb :evil:
    adirossi´s last blog ..Google dan Hujan Meteor Perseid

    bukan jajah tapi jajan, maksudnya korupsi untuk jajan rumah,tanah,mobil dan lain-lainnya.My ComLuv Profile

  19. Comments  Blogodolar   |  Thursday, 13 August 2009 at 13:59

    Ingat Daendels, jadi ingat kampung halaman di Sumedang, di mana ada patung antara Pangeran Geusan Ulun (raja Sumedang) sedang bersalaman dengan Daendels.

    Tugu ini dibuat di daerah Cadas Pangeran, yaitu wilayah yang dulunya merupakan rute jalan Anyer-Panarukan. Banyak korban, wong cadas yang digali, sementara alat yang digunakan cangkul dan linggis.
    Memang, kerja rodi itu membawa petaka…
    Salam dari orang Sumedang yang lagi merantau di Sorowako Sulawesi Selatan

    Benar mas, karyanya memang luar biasa, hanya setahun, tetapi ratusan ribu bangsa kita sebagai tumbalnya.

  20. Comments  Siapa berbuat apa. | abdulcholik.com   |  Saturday, 15 August 2009 at 16:36

    [...] sahabat sudah saya ajak untuk membayangkan kekejaman para penjajah, baik dimasa penjajahan Belanda maupun Jepang, membayangkan bagaimana situasi menjelang, sewaktu dan setelah proklamasi, termasuk [...]