Ciuman No Uang Yes
Jancuritz….baru enak-enaknya mau nyruput cappucino anget eee si Dasrun datang sambil menunjukkan muka berak kayak bedhes ketulup. Dilihat dari lagak-lagunya, pasti ada maunya. Ini jelas tampak dari wajahnya yang agak suram-durja pertanda hatinya sedang gundah-gulana. Adakah batu koral yang sedang mengganjal hatinya ataukah kemarahan tengah melanda ?
” Sugeng enjang, pakde “, Dasrun uluk salam sambil mencium tangan. Tersungging senyum disudut bibirnya yang hitam dan tebal tetapi tanpa rasa, datar, dingin tak ada kehangatan.
” Met pagi, Dust Round “, jawabku memancing guraunya. Dasrun tetap tak mengembangkan senyum. Saya sebenarnya ingin tertawa ngakak, namun saya tahan. Bukan mentertawakan wajahnya yang kusut masai, tetapi karena pakaian yang dikenakannya itu yang membuat saya geli. Bayangkan kawan, celana kotak-kotak warna coklat hijau dipadu-padankan dengan hem warna pink. Komik saja tidak ada yang warnanya seperti itu. Tapi ya itulah Dasrun, suka asal pakai..
” Gini , pakde. Saya datang ada perlunya sama pakde “, Dasrun menunjukkan wajah serius.
” Saya sudah tahu !! “, jawab saya singkat, akurat, tajam dan menukik.
” Lho..lho..jadi pakde sudah tahu tho maksud kedatangan saya ?”, tanya Dasrun heran.
” Ya jelas donk, pakde gitu loch. Kamu gak akan datang kalau nggak ada perlunya. Ketika saya mlungker kedinginan karena kena flu beratz selama 3 hari kan kamu gak bezuk saya, mengapa ? Yaaa karena kamu gak ada perlunya. Ketika budhemu bingung mencari orang untuk membetulkan genteng yang bocor, kamu juga gak datang, mengapa ? Ya karena kamu sedang tidak ada perlunya. Makanya, ketika pagi ini kamu datang saya bisa menduga bahwa kamu sedang ada perlu, benar apa tidak ? “. Saya mulai mengeluarkan aji Dewo Wudho yang membuat siapapun akan kedher dan gemeter jika menatapku.
Ehhhh hladalah… jagad Dewo Bathoro…….si Dust Round tiba-tiba memeluk dengkulku, terdengar isak tertahan. Gileeee….tangan si Dasrun yang kasarnya bak parutan kelapa itu menjabat erat tanganku seolah tak akan dilepaskan.
” Pakde, maafkan saya. Kali ini saya benar-benar perlu bantuan pakdeeeeeee. Saya sudah menghubungi Bundastyle, tapi hanya dikasih ciuman hangat , eh maksud saya dinasihati doank. Demikian juga ketika saya sowan mas Dewo, beliau malah asyik main piano sambil berkata : ” Emangnya saya Komandan Dinas Sosial ? Saya tak akan memberimu ikan tapi pancing. Sudah sana menghadap Pakde “ . Gitu kata mas Dewo, pakde. Makanya saya kemari “.
Saya ngempet tertawa. Membayangkan Dasrun lari kesana-kemari cari bantuan.Dasrun sebenarnya sahabat yang baik, tapi kalau sudah kumat malasnya, tak ada tandingannya. Sebenarnya perlu apa sih dia.
” Oke..Oke..sekarang katakan apa keperluanmu. Singkat saja karena sejam lagi saya mau ke Jombang nich “
” Saya mau pinjam uang untuk biaya Rama, pakde. Berapapun pakde kasih akan saya terima. Hanya pakde yang jadi sandaran saya kali ini “.
Sudah saya duga, Dasrun memerlukan uang cash, bukan ciuman hangat seperti yang dinasihatkan oleh Bundastyle.
Dasrun tak gablog punggungnya, sangking kerasnya gabloganku Dasrun nyaris kejlungup.
” Gak usah pinjam, tak kasih 400 ribu. Itu adalah tali asih dari saya karena dirimu saya pakai untuk bahan postingan di blog saya yang baru. Nih, lihat artikelnya.
Dasrun melihat kisah Dust Round Gate. Dia lalu koprol 3x, sambil tertawa ngakak.
” Pakde, memang seorang pensiunan. Tapi pakde bukanlah sebuah puntung rokok yang dibuang begitu saja setelah diisep. Matur nuwun and Bravo, Pakde !!”, teriak Dasrun sambil mencium tanganku.
Saya mlongo, darimana Dasrun dapat kalimat ciamik kayak gitu ?
—-
Catatan : artikel ini untuk menjawab lemparan Mas Dewo yang saat ini sedang mengikuti seminar di New Market.
.


51 Comments
Skip to Comment Form ↓