Dari Jakarta ke Situ Gunung
Ramalan tandatangan
Mei 1999, di sebuah ruangan seorang dokter pada sebuah rumah sakit di Jakarta Timur.
“ Saya sarankan agar Bapak segera menjalani operasi untuk memperbaiki syaraf yang terjepit di tulang belakang itu. Bapak bisa memilih, operasi didalam negeri atau di Singapura. Biaya operasi sekitar Rp. 25 juta. Jika tidak segera dioperasi bapak bisa menderita kelumpuhan karena penyakit ini tampaknya sudah cukup lama bapak derita “.
Kalimat yang diucapkan dengan lembut oleh seorang dokter ahli syaraf itu bak palu godam yang menghantam kepalaku. Kata “lumpuh “ itu sungguh sangat menyeramkan. Maklum mertua saya meninggal dunia karena penyakit yang di awali dengan kelumpuhan lokal di tangan kirinya.
.
Sayapun teringat ucapan seorang sahabat di Palembang beberapa waktu sebelumnya. Kala itu saya diminta untuk menorehkan tandatangan pada secarik kertas kosong. Setelah mengamati tandatangan saya, sahabat dari etnis Tionghoa tersebut berkata : ” Kaki kiri bapak akan bermasalah jika dilihat dari bentuk tandatangan ini. Kalau bisa tandatangan bapak dirubah saja ”.
Hyaaa….mana mungkin saya merubah tandatangan karena hal itu akan menyangkut kegiatan lain yang ada hubungannya dengan tandatangan misalnya soal gaji dan lain-lainnya. Nasihat sahabat tadi segera saya lupakan karena saya mutasi ke Surabaya. Selain itu saya juga tak akan percaya hal-hal yang absurd seperti itu.
Apakah ucapan sahabat tadi baru terbukti 5 tahun setelahnya karena kaki kiri saya memang sedang bermasalah. Ya….kaki kiri ini udah semakin melemah. Untuk naik mobil saja saya sudah harus mengangkatnya dengan tangan. Bahkan saya pernah terjatuh di sebuah rumah sakit ketika akan memeriksakan kaki kiri itu.
” Bagaimana pak ? Makin cepat operasi makin baik agar tidak terlambat ”, dokter itu kembali menanyakan tentang operasi syaraf yang baru saja disarankan.
” Akan saya komunikasikan dengan keluarga dulu,dok ”. Hanya itu jawaban saya sambil beranjak kembali ke mess tempat saya tinggal selama di Jakarta.
Ketika saya tanyakan kepada dokter, mengapa kaki kiri saya bisa seperti itu, dokter menjawab: ” Ada beberapa kemungkinan pak. Antara lain :
1. Bapak melakukan olahraga tanpa pemanasan yang cukup dan benar.
2. Bapak mengangkat atau menurunkan benda berat dengan posisi badan dan kaki yang tidak kokoh.
3. Bapak mengambil benda yang berada diatas atau dibawah dengan cara memaksa, seharusnya bapak berdiri diatas kursi jika bendanya diatas dan bapak membongkokkan badan sambil menekuk kaki jika bendanya berada dibawah badan bapak.”
Yup, penyakit saya oleh orang Jawa disebut ”Kejethit ”. Sedangkan dari hasil MRI ( Magnetic Resonance Imaging) disebutkan kesimpulannya seperti dibawah ini :
Kesan
Tampak spondyloarthrosis dan degenerasi diskus ringan, terutama pada kedua segmen lumbal terbawah, yang selain itu juga menunjukkan herniasi diskus ke intraspinal medial, terutama pada level L4/5 yang disertai dengan kompresi thecal sac dan struktur radikuler di dalamnya, terutama radices L5 bilateral.
Rahasia
Walaupun kaki saya sudah semakin lemah saya belum memberitahukan penyakit ini kepada orangtua, istri dan anak-anak. Saya akan mencoba dulu untuk berobat sampai sembuh.
Saran dokter untuk melakukan operasi itu saya sampaikan kepada beberapa teman yang tinggal di mess. Salah seorang diantaranya adalah dik Wahyu yang juga seorang tentara, dia bilang ” Usahakan melakukan pengobatan dulu mas, jangan dioperasi ”.
Saya menyetujuinya. Beberapa terapi yang pernah saya coba adalah
1. Tusuk jarum pada tabib Cina.
2. Pijat
3. Minum jamu sakit pinggang karena pinggang memang terasa sakit, terutama setelah berdiri dari duduk. Juga disertai rasa kesemutan pada kaki dan lama kelamaan kaki terasa berat untuk dibawa melangkah.
4. Minum cuka apel yang di cemplungi telur ayam.
5. Menjalani pengobatan alternatif di Yayasan Patria Mitra Medika Cisaat-Sukabumi. Langkah kelima ini akan saya ceritakan agak rinci.
Dicekik Pak Harry Andrianto.
Atas saran salah seorang PNS yang bekerja di mess, saya berangkat ke Cisaat-Sukabumi tepatnya di sebuah klinik Yayasan Patria Mitra Medika. Dari pasar Cisaat meliwati sebuah jalan raya beraspal dan hampir menthok di kawasan Hutan Lindung di desa Situgunung. Klinik ini lokasinya terpencil namun yang berobat berjubel dan pasien harus antri. Di klinik tersebut juga disiapkan beberapa kamar untuk tempat tinggal pasien yang ingin rawat inap.
.
Di atas sana adalah kawasan hutan lindung untuk rekreasi juga
Jika hari Sabtu pasien akan berjubel
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Pak Harry sedang mencekik saya
.
Yang melakukan terapi adalah Pak Harry Andrianto, umurnya dibawah saya beberapa tahun dan pernah belajar terapi di Taiwan selama 4 tahun. Pak Harry dibantu oleh beberapa tenaga bidang administrasi dan perawat.
Cara terapi agak unik. Pasien duduk disebuah kursi, lalu pak Harry berada dibelakang pasien. Mula-mula Pak Harry memegang leher pasien lalu menekan urat leher pasien beberapa detik. Yak mirip ditot0k jalan darahnya seperti yang s ering saya lihat di film silat. Hanya begitu saja cara terapinya sehingga dalam waktu satu jam sudah beberapa puluh orang yang diterapi.
Cekikan perdana.
Ketika tiba giliran saya, pak Harry menanyakan beberapa hal tentang penyakit saya. Saya juga menyerahkan hasil MRI. Pak Harry lalu mempersilahkan saya duduk di kursi dan pak Harry langsung mengambil posisi di belakang saya. Terasa ketika tangan pak Harry memegang leher saya , lalu menekan urat leher dan……saya serasa bermimpi….mendengar suara pasien yang lain tetapi tak tahu saya seolah dimana gitzuuuu.
Yup, beberapa saat kemudian ada tepukan tangan dipundak saya dan sayapun tersadar.
” Pak Cholik menginap disini saja biar saya bisa menangani dengan intensif. Nanti diantar ke kamar pakai kursi roda oleh perawat ”.
Sayapun menginap di Cisaat dan mendapatkan terapi sebanyak 3x setiap hari. Selain di cekik – begitu istilah saya dan teman-teman pasien yang lain – kami juga diberi kapsul.
Saya berobat selama 3 bulan di Cisaat. Datang hari Kamis dan kembali ke Jakarta hari Minggu siang. Untuk keperluan pengobatan ini saya minta ijin khusus kepada pimpinan.
Biaya pengobatan
Biaya pengobatan kala itu (tahun 1999) sebesar Rp. 612.000 sampai sembuh. Belum termasuk biaya penginapan yang besarnya Rp.150.000/ kamar yang berisi 2 tempat tidur. Satu tempat tidur lainnya untuk ditempati keluarga pasien. Pasien dan keluarga juga mendapat jatah makan 3x sehari dan sekali snack pada sekitar jam 10.00 pagi. Saya tidak tahu dengan pasti berapa paket biayanya sekarang.
Kontak Ipung.
Setelah beberapa kali menginap di Sukabumi, akhirnya saya memberitahu Ipung bahwa saya sedang menjalani terapi di Sukabumi dan sekaligus saya minta dia datang untuk menemani saya. Ipung saya wanti-wanti jangan sampai masalah ini di ceritakan kepada keluarga Jombang. Saya takut emak malah kepikiran. Hingga tulisan ini dibuat emak memang tidak tahu bahwa anaknya yang ganteng ini pernah nyaris lumpuh.
Jenis Pasien.
Selama berobat di YPMM, saya mengetahui bahwa pasien yang datang berobat menderita aneka penyakit. Ada yang stroke, sakit jantung, diabetes, Lupus, ingin punya anak, dan lain sebagainya. Walaupun penyakitnya beraneka ragam, terapinya sama semua yaitu di cekik lehernya. Sangking akrabnya dengan pak Harry, saya suka bercanda ” Pak Harry ini kerjanya hanya mencekik orang tapi banyak duitnya ”.
Pantangan.
Pada kartu alamat yang diberi oleh Pak Harry, selain ada denah juga ada jenis makanan dan minuman yang tidak boleh di konsumsi. Pantangan tersebut antara lain : nasi goreng, mi instan, soft drink, coklat, kacang-kacangan, nangka, pisang raja, daun singkong, dan lain sebagainya.
Tetap NgeTop
Akhirnya sayapun jadi ngetop setelah beberapa lama berobat di YPMM. Bahkan suka dijadikan contoh oleh pak Harry ” Pak Cholik itu dulu datang kemari di antar pakai kursi roda, lihat tuh sekarang sudah bisa stir sendiri dari Jakarta ”
Saking ngetopnya, waktu pak Harry ultah sayapun diminta menjadi EO merangkap pembawa acara ha ha ha ha.
Saya dan keluarga Pak Harry seolah menjadi saudara dan hingga sekarang masih sering kontak dengan beliau.
Usaha dan berdoa.
Tentu, kesembuhan saya dari penyakit bukan semata-mata karena cekikan pak Harry, ada tangan Tuhan yang sangat menentukan. Pak Harry hanyalah media semata. Selain di cekik dan nguntal kapsul, saya tak lupa bangun tengah malam untuk sholat tahajud memohon agar saya diberikan kesembuhan.
Alhamdulillah, saya akhirnya sembuh total tanpa operasi.
Hikmah.
1. Kelalaian menjaga kesehatan bisa berakibat fatal.
2. Kesembuhan suatu penyakit bisa diperoleh melalui upaya yang sungguh-sungguh, dengan cara apapun yang tidak melanggar ketentuan agama dan dibarengi dengan doa. Hasilnya ya tawakal karena hanya Allah Yang Maha Menyembuhkan.
Pesan untuk sahabat.
1. Jika akan berolahraga, lakukan pemanasan dengan baik dan benar.
2. Jangan memaksa mengangkat benda berat.
3. Jika akan mengambil benda di tempat yang tak terjangkau oleh tangan atau diatas badan kita, jangan memaksakan diri. Ambil kursi atau tangga lalu naiklah dan ambillah benda itu.
4. Jika akan mengambil barang yang jatuh, jangan memaksakan diri untuk membungkuk, merendahlah dengan cara menekuk kaki atau jongkok, baru ambil benda itu.
5. Menjaga kesehatan lebih utama dan murah daripada mengobatinya.
6. Apapun dan bagaimanapun cara pengobatan jangan sampai menjadikan kita musryik.
.
Artikel ini diikut-sertakan dalam Kontes Aku Ingin Sehat.









35 Comments
Skip to Comment Form ↓