Kado Cinta Isteri tercinta

Create your own banner at mybannermaker.com!

.

Ulang tahun, ehm sebuah kata yang tak asing ditelinga. Sebagian dari kita merayakannya dengan pesta, sebagian lagi merayakannya dengan syukuran sealakadarnya, dan sebagian lagi bahkan tak terpengaruh pada tibanya tanggal yang sama sesuai hari lahirnya. Sahabat mungkin termasuk pada bagian dari sebagian yang pertama, yang terbiasa merayakannya dengan pesta, lilin di kue lalu menipunya lantas tepuk tangan pun membahana. Atau mungkin sahabat adalah bagian yang kedua, yang ditanggal itu mengadakan syukuran sealakadarnya tanpa gagap gempita dan canda tawa keluar dri bibir berlumur kue aneka rasa. Atau bisa jadi sahabat adalah bagian yang terakhir, yang menganggap hari lahir bukanlah hal yang penting yang harus dijadikan moment untuk melakukan sesuatu yang tak biasa, karena yang terpenting bagi sahabat adalah bagaimana bisa menjalani kehidupan ini dengan baik, bermanfat buat lebih banyak orang di muka bumi.

Saya terlahir dari keluarga yang sederhana di sebuah desa nan asri yang konon merupakan bagian dari wilayah kerajaan Galuh. Di keluarga kami, hari lahir bukanlah sesuatu yang harus diperingati, dirayakan apalagi di sakralkan. Kami berada pada sebuah keluarga yang menganggap bahwa hidup adalah perjuangan, perjuangan yang indah. Jalani saja hidup dengan memaslahatkan diri. Menghitung hari lahir sama tak pentingnya dengan terus fokus menebak kapan kita meninggal. Tapi sebagai anak, tentu saja kadang ada celoteh protes keinginan tuk seperti di sinetron-sinetron, ada perayaan ULTAH dengan lilin di kue dan kado yang menumpuk di pangkuan. Ayahku biasanya tersenyum jikalau celoteh protes itu menerpanya, yang akhirnya kadang beliau pun seolah menyerah dengan mengumpulkan seluruh anggota keluarga di meja makan, dimana di meja makan itu terhidangkan makanan yang lumayan spesial. Lalu, di sana ayah memimpin doa untuk kebaikan anak-anaknya. Ya tapi tetap saja doa itu tak diarahkan hanya untuk anaknya yang kala itu ulang tahun, tapi untuk anaknya yang lain juga yang duduk imut menatap hidangan yang tersajikan.

Ah fase masa kecil itu jelas telah jauh kulalui. Di fase remaja dan beranjak dewasa aku telah mampu melepaskan diri dari harapan perayaan ULTAH yang diadakan bunda dan ayah di rumah. Tak penting lagi bagiku, toh kekasih dan sahabat-sahabatku biasanya memberikan kado di hari lahirku. Ya mulai kado yang menjijikan berupa melempar telur ke badan, tepung ke wajah, mengguyur kepala dengan air tujuh rupa. Kado yang menyakitkan seperti cubitan dan tamparan. Kado yang merugikan semisal harus mentraktir teman-teman sejumlah penduduk satu kelurahan. Hingga kado yang menyenangkan seperti kecupan kekasih, kue dengan lilin di atasnya dan tumpukan kado dari teman. Ah apapun yang terjadi, aku hanya mebulatkan do’a dalam hati, “Ya Allah, ampuni segala kesalahanku di masa yang telah lalu, dan berkahkan usiaku di masa selanjutnya“. Benar kata ayah, tak penting kita merayakan hari lahir, tapi penting bagi kita mensyukuri kehidupan ini.

Kali ini, aku bukan lagi sang lajang petualang. Aku adalah seorang suami yang sedang belajar membahagiakan istrinya. Aku juga seorang lelaki yang sedang berbahagia karena telah mampu menghamili anak orang dalam koridor yang halal dan indah. Kali ini, aku pun coba menebak-nebak apa yang terjadi di hari lahirku ini. Apakah tamparan dan cubitan, apakah telur ayam dan tepung membasuh badan, apakah kembali kue terbang dari sosok yang tak kukenali wajahnya seperti tahun lalu, atau apakah kado-kado dari para pengagum rahasia seperti biasanya. Sengaja tak kucantumkan tgl lahir di akun FB ku, jadi saat pagi kulihat, tak ramai capan selamat ULTAH atau milad, hanya satu dua saja yang memang sahabat dekatku yang ingat. Kubuka akun FB Mie Janda, di sana tampak banyak ucapan selamat. Aku tersenyum, ya karena tanggal lahir kedai sahaja itu bertepatan dengan tanggal lahir yang tertera di KTP-ku. Tak banyak yang tahu itu, dan memang tak perlu juga banyak yang tahu.

Pagi beranjak siang, siang menjadi sore, dan sore pun berganti malam. Tak ada yang spesial seperti tahun-tahun sebelumnya, “mungkin memang nasibku yang tak lajang lagi”, gumamku. Hehehe, resiko orang beristri dijauhi penggemarnya. Tapi apa yang terjadi saat kutatap tempat tinggalku gelap, dan saat kuucapkan salam dan pintu terbuka, tampak film karya istriku di dinding, terpancar dari sebuah infocus yang biasa kumanfaatkan untuk presentasiku saat melakukan training motivasi. Lagu dari Ungu mengiringinya, lalu setelah itu lagu selmat ulang tahun terdendangkan. Ada kue dengan lilin di atasnya, ada teman-teman berdatangan yng ternyata telah bersekongkol untuk memberikan kejutan ini. Ah, ternyata di saat istriku mual-mual karena hamil, dia masih sempat mempersiapkan ini semua. Termasuk membuat sebuah puisi yang indah.

.

Teruntuk yang Terkasih

Pagi ini ditemani hujan
Tiba-tiba aku ingin melulis puisi untukmu
Aku tahu tak ada apapun yang dapat aku berikan padamu
Aku hanya bisa mencintaimu dengan begitu sederhana

Manisku,
Cintaku mungkin tak bisa membakarmu,
Tapi tak akan membuat hatimu beku

Manisku,
Aku tak akan bisa membawakan cahaya bulan kepelukanmu
Tapi aku bisa setiap saat menemanimu memandangnya

Hari ini tiga puluh tahun usiamu
Bukan ingin kuberikan sebuah perayaan
Tapi aku ingin mengucapkan syukur
Bahwa kau telah tercipa untuk menemaniku, menyayangiku, menjagaku

.

Ah, aku terhanyut sudah. 30 tahun usiaku bertepatan dengan 3 tahun usia kedaiku. 9 bulan usia pernikahanku, 2 bulan usia kehamilan istriku. Subhanallah, ini adalah moment indah, ini adalah keadaan tak terlupakan. Pengalaman hidup yang membuat aku merasa benar-benar ada di bumi ini. Alhamdulillah, Allah masih memberikan kesempatan padaku tuk menjalani kehidupan ini, menjalani kehidupan dengan bergelimang nikmat dan rahmat-Mu. Terima kasih istriku, atas kesabaranmu menjalani hidup bersama seorang lelaki yang sahaja.

Pak Dhe, terima kasih karena kau telah memberikan media tuk kutumpahkan kembali rasa syukurku :)

.

.

Guest Writer Achoey

Artikel diatas kiriman dari Achoey el Haris
Pemilik blog cucuharis.wordpress.com
Pemilik Mie Janda

Pelanggan kuis dan kontes di BlogCamp Group

Tinggal di Bogor

.

.

.

 

 

26 Comments

Skip to Comment Form ↓
  1. pagibening says:

    Kado yang sangat sederhana jika dibandingkan dengan kebahagiaan yang selalu suamiku berikan untukku. Senyum dan gayanya yang selalu membuat aku bahagia dan tertawa. Trimakasih sayangku.
    Makasih juga buat PakDe yang sudah posting tulisan Aa :)

    so sweet
    sama2 nduk

    pagibening“s last [type] ..Selamat Ulang Tahun Untuk Yayankku

Bad Behavior has blocked 827 access attempts in the last 7 days.