Perjalanan nan tak terlupakan

 

Create your own banner at mybannermaker.com!

Slot untuk artikel tamu tinggal 2, harap maklum

.

Bepergian ke luar daerah dengan menggunakan sepeda motor mungkin sudah biasa dilakukan oleh orang banyak. Namun jika bepergian dengan menggunakan sepeda motor untuk jarak tempuh kurang lebih 400 km dengan kecepatan rata-rata 60-80 km/jam, dan dalam keadaan hamil muda serta ngidam parah, saya rasa itu masih jarang banget, yak? atau mungkin belum pernah ada yang senekat itu.

Adalah saya dan suami yang memutuskan untuk melakukan perjalanan “nekat” itu menuju ke kampung halaman orang tua (suami) saya, yang terletak 400 km dari kota Makassar. Sejak mengetahui kehamilan yang ketiga, awal maret 2010 lalu, situasi kondisi di rumah saya sedikit kacau. Kehamilan saya ketiga ini rupanya sedikit berbeda dengan dua kehamilan sebelumnya. Jika biasanya saya hanya mual muntah sesekali seperti bumil lainnya pada trimester awal kehamilan, kali ini tidak. Saya mual muntah, namun dengan frekuensi yang menurut saya telah melebihi batas normal. Betapa tidak, sejak saya bangun tidur di subuh hari hingga menjelang tengah malam sebelum tidur, saya terus-terusan mual muntah tak henti-henti. Derita itu tak berhenti disitu saja, saya juga tidak bisa makan sama sekali. Tiap saya makan, tiap kali itupun saya akan muntah kembali. Hanya air putih hangat yang bisa sedikit menolong saya.

 

Ternyata saya mengidap hyperemesis Gravidarum. Suatu kondisi dimana ibu hamil mual muntah parah dan tidak bisa makan sama sekali. Keadaan itu   menjadikan saya lemah dan tak bisa mengerjakan aktivitas sebagai ibu rumah tangga yang cekatan seperti biasa. Semua pekerjaan rumah tangga akhirnya dengan terpaksa dihandle oleh suami. Meski sedikit berkurang karena si sulung sebelumnya sudah diajak liburan sama neneknya ke kampung sebelum saya mengetahui kalau tengah hamil. Tapi tetap saja suami kerepotan. Mulai dari membuat sarapan, memandikan si tengah, mencuci pakaian, menemani anak bermain, menyiapkan makan siang dan malam serta bersih-bersih rumah. Meski sangat tak tega, tapi apalah daya. Jangankan membantu, untuk berdiri lama saja saya tidak cukup kuat.

 

Awalnya suami memang melakukannya dengan senang tanpa keluh kesah. Namun semakin hari, beban itu semakin berat dipundaknya. Apalagi pekerjaannya menumpuk karena agak terbengkalai. Belum lagi saya yang ngotot tak mau dirawat inap di rumah sakit. Selain karena saya takut diinfus, saya juga tidak yakin apakah dengan dirawat inap, sikon jadi lebih menguntungkan di pihak kami. Saya menimbang, jika saya dirawat di rumah sakit, tak ada yang tahu berapa lama saya disana hingga bisa beraktivitas kembali seperti sedia kala. Berapa banyak biaya yang akan dikeluarkan untuk itu, dan yang paling terpenting lagi, suami saya akan semakin kerepotan karena harus bolak-balik rumah dan RS jika saya benar-benar dirawat inap. Bukan hanya pekerjaannya yang akan terbengkalai tapi juga  anak kami.

 

Namun kengototan itu tak merubah keadaan. Situasi semakin memeningkan kepala. Malam awal april itu, kami diskusi dan memutuskan agar saya tinggal sementara dulu dengan mertua hingga saya sembuh dari mual muntah parah itu. Sebenarnya dalam hati saya menolak, karena itu berarti akan berpisah dengan suami selama beberapa bulan. Tapi saya tak punya pilihan lain. Suami saya juga tak mungkin terus-terusan membiarkan pekerjaannya menumpuk, dia harus kerja untuk menafkahi kami, istri dan anak-anaknya.

 

Sementara untuk pulang ke kampung halaman orangtua, kami harus naik bus, duduk selama kurang lebih 8 jam. Membayangkannya saja sudah sangat melelahkan. Parahnya, baru saja suami saya ingin memesan karcis busnya, saya sudah muntah-muntah tidak karuan. Rencana dibatalkan. Hingga beberapa kali hal itu terus-terusan terjadi. Padahal jika dalam kondisi normal, saya sama sekali tidak pernah mabuk dalam perjalanan baik darat, laut maupun udara.

 

Seminggu setelahnya kami diskusi kembali. Satu-satunya jalan terakhir yaitu pulang dengan menggunakan sepeda motor. Sungguh itu adalah impian saya sejak menikah dulu. Pulang ke kempung halaman orangtua, berdua, naik motor. Tapi tidak dengan kondisi sedang hamil seperti ini. Apalagi ada si tengah bersama kami. Perjalanan itu akan sangat berisiko. Jalanan yang separuh mulus separuh tengah diperbaiki. Belum lagi kalau tiba-tiba turun hujan. Apalagi kondisi saya yang masih lemah. Kalau keluarga saya tahu, pasti tidak akan diizinkan. Namun tidak ada jalan lain dan waktu semakin mendesak kami untuk segera mengambil keputusan.

 

Akhirnya, setelah suami menyesuaikan jadwal kerja dan kuliahnya, kami sepakat untuk nekat pulang kampung di minggu ketiga april. Suami meyakinkan saya bahwa semua akan baik-baik saja dan ia akan lebih berhati-hati.

 

Hari itu saya bangun lebih cepat dari biasanya untuk menyiapkan perlengkapan yang akan kami bawa dalam perjalanan. Entah mengapa saya merasa ada kekuatan yang muncul dalam diri saya. Saya bangkit, melaksanakan shalat tahajjud, witir, kemudian bergegas mencuci semua pakaian kotor dan peralatan dapur yang belum sempat dicuci suami. Saya memang selalu begitu jika ingin bepergian lama, tak ingin meninggalkan rumah dalam keadaan kotor sedikitpun. Setelahnya saya menyiapkan bekal untuk perjalanan. Si tengah yang masih terlelap terpaksa saya bangunkan agar bisa segera bersiap-siap. Kami berencana berangkat lebih awal agar lebih cepat sampai ditujuan.

 

Selepas shalat subuh, kamipun berangkat menembus dinginnya udara dan langit yang masih menyisakan pekat meski ada rembulan disana. Sepanjang perjalanan saya tak henti berdoa agar kami diberi keselamatan. Saya tak pernah memejamkan mata. Saya terus berdoa, meminta ini itu. meminta agar suami tetap awas dan waspada, agar kami tak ngantuk, agar cuaca tak panas juga tak hujan, agar tak ada pengendara lain yang ugal-ugalan yang bisa membahayakan jiwa kami, agar saya tak mual apalagi muntah, dan banyak lagi yang terus saya ucapkan bergantian dalam hati saya. Dan serasa yang kuasa mengabulkan semua pinta saya saat itu juga.

 

Suami pun selalu mengingatkan agar saya tetap awas dan memperkuat pegangan. Khawatir saya akan mengantuk, apalagi ada si tengah berada diantara kami. Anak keduaku yang baru berumur 2 tahun waktu itu terus terlelap selama perjalanan. Sesekali ia terbangun dan ketika wajahnya diterpa embusan angin, maka dia akan segera terlelap kembali.

 

Beberapa kali kami singgah. Sekedar meluruskan seluruh persendian yang terasa kaku. Suami saya selalu singgah di tempat-tempat yang indah. Beberapa kali di tepi pantai yang memang berada di pinggir jalan yang kami lalui. Saat suami menambah sedikit kecepatan dan pandanganku menghadap ke pemandangan indah itu, maka sensasinya seperti terbang di udara (lebay dikit, ah). Saya jadi lupa kalau sedang tidak sehat. Saya merasa impian yang ada sejak awal pernikahan, bisa pulang bertemu orangtua dengan cara seperti ini telah tercapai. Meski kami melakukannya dengan sembunyi-sembunyi dan tanpa pemberitahuan lebih dulu. (padahal saya paling anti untuk hal yang satu ini).

 

Dan alhamdulillah berkat perlindungan-Nya, akhirnya kami tiba di rumah tepat pukul 14.00 wita. Anak pertama kami yang kebetulan tengah bermain di halaman rumah berteriak kegirangan menyambut kedatangan kami. Rupa-rupanya ibu dan ayah mertuaku menyangka si sulung hanya bercanda sampai melihat kami secara langsung. Ibu mertuaku gelang-geleng kepala melihat kedatangan kami dengan cara senekat itu. Meski sedikit kesal, akhirnya sang ibu mengerti dan mengajak kami masuk rumah, menyantap makan siang, makanan khas mereka yang entah mengapa hari itu ingin sekali ibu buat. Apa dia punya firasat kalau kami akan datang??? entah.

 

Yang jelas, sampai hari ini kakak dan ayah kandungku sendiri tak pernah tahu tentang perjalanan itu. Meski telah lama berlalu, tapi kalau mereka tahu, suamiku bisa kena marah. Kasian. Biarlah perjalanan tak terlupakan itu   menjadi rahasia kami, demi kebaikan bersama.

Jadi sahabat jangan bilang-bilang pada mereka yah??? please… :-)

 

 

Slot untuk artikel tamu tinggal 2, harap maklum

 

Guest Writer Bangau Putih

Artikel ini ditulis oleh Rasyidah A. Alsadi

yang punya http://bangauputih.info

Berdomisili Makassar

Sering mengikuti kontes, kuis dan pernah menjadi model kuis di BlogCamp Group

 

Buy and Sell text links

Tags: , , , hamil muda, mual dan muntah tengah malam, Perjalanan jauh, sepeda motor,

22 Comments

Skip to Comment Form ↓
  1. Iksa says:

    Waduh ini nekat bener ya ….semoga tak ada yang meniru …
    Syukur semua berlangsung dengan baik

    asal se-sadhel berdua yo asyik2 saja mas

  2. Kakaakin
    Twitter:
    says:

    Wah… kebayang deh, pantat bakalan kram karena kelamaan duduk di motor… :)
    Syukurlah semua selamat dalam perjalanan itu ya, Mbak…

    jangan mbayangin yang aneh2 tho wuk
    Kakaakin´s last [type] ..Chubby vs Tirus

  3. bangauputih
    Twitter:
    says:

    wah, artikelnya dah nongol, makasih banyak pakdhe, lulus persyaratan juga, :-)
    @iksa : iya, semoga tak ada bumil lain yang meniru ke”nekat”an itu yak, hehe

    Sama2 nduk, tali asih akan segera dikirimkan
    bangauputih´s last [type] ..Gundulz Twins

  4. bangauputih
    Twitter:
    says:

    @kakaakin: nggak kok mba, kan sering mampir selama perjalanan. :-)
    bangauputih´s last [type] ..Gundulz Twins

  5. iya pasti keram ya mbak…lagi hamil pula…bawa anak pula ..ga kebayang deh…alhamdullillah sampai dengan semangat ya…

  6. bangauputih
    Twitter:
    says:

    @puteri: nggak kram mba, cuman lengan dan bahu yang puegel sangad nahan badan anak yang miring kanan kiri karena banyakan tidur selama perjalanan.
    bangauputih´s last [type] ..Gundulz Twins

  7. News Blog
    Twitter:
    says:

    wanita yang kuat , dimana ya kampungnya bu 400 km Palopo atau SULBAR
    News Blog´s last [type] ..Y! Buzz not working now

  8. Orin
    Twitter:
    says:

    Ehem…kalo Syida ikutan sesekali bawa motor juga, lebih seru kali ya hihihi..
    Oh iya, selamat hari Rabu Pak Dhe ^^
    Orin´s last [type] ..Neng- My Dearest Sister

  9. Batavusqu says:

    Salam Takzim
    Membaca artikel tamu ini saya begitu terharu pakde sungguh perjalanan yang sangat berkesan, semoga anaknya nanti menjadi orang besar
    Salam Takzim Batavusqu
    Batavusqu´s last [type] ..Sempit karena terlena

  10. bangauputih
    Twitter:
    says:

    @orin: panggil ridha aja mba, lebih uenak.
    @batavusqu: terimakasih doanya, mas. Amin…
    bangauputih´s last [type] ..Gundulz Twins

  11. Nh18 says:

    Ibu ….
    Saya salut dengan suami ibu …
    Sungguh beliau orang yang kuat, sabar dan sayang sama keluarga …
    Sampaikan salam saya untuk beliau ya bu …

    Salam saya

  12. Blogger Java says:

    Sebenernya saya mau bilang sama kakak dan ayah kamu, tapi berhubung saya tidak kenal… tidak jadi deh? hehehehe….

  13. bangauputih
    Twitter:
    says:

    @Oom NH: iya pak, alhamdulillah itu salah satu anugerah terindah pemberiannya.
    @bloggerjava: alhamdulillahmereka bukan blogger, kalau iya pasti mas bocorin rahasia ini, hihi
    bangauputih´s last [type] ..Gundulz Twins

  14. Lidya says:

    Allhamdulillah masih diberikan keselamatan ya mas, eh mbak hehehe .jadi malu kasus salah jenis kelamin
    Lidya´s last [type] ..Penghasilan Pertama dari Mizan

  15. nia/mama ina
    Twitter:
    says:

    waduh mbak, ngga kebayang dech…dalam keadaan hamil menempuh perjalanan selama 9 jam naik motor? untung cuaca mendukung yachh……trnyata hamil tiap anak berbeda2 yach…Alhamdulillah kalo aku hamil 2 kali, dua-duanya hamil kebo alias makan apa aja masuk hehehe……
    nia/mama ina´s last [type] ..Surat Untuk Dija

  16. bangauputih
    Twitter:
    says:

    @lidya: iya mba, Allah masih melindungi kami.
    @mama ina: hamil kebo? enak dong mba, anaknya pasti sehat2 dan BB lahirnya diatas standar yah mba, :-)
    klo saya sih mba, 3 kali hamil, ketiga2nya susah makan di saat trimester awal. namun yang terakhir ini yang lumayan beratz. tapi alhamdulillah semuanya terlewati dengan bantuan-Nya.
    bangauputih´s last [type] ..Gundulz Twins

  17. yuni cute
    Twitter:
    says:

    Alhamdulillah, sekarang bayinya sudah lahir kan Mbak? :D

  18. bangauputih
    Twitter:
    says:

    @yuni: iya mba, dah lima bulan tgl 21 kemaren :-)
    bangauputih´s last [type] ..Gundulz Twins

  19. Prima says:

    Keren mbak, pertama, karena suami mbak, kuat dan percaya diri, dan kedua, untuk perjalanan naik motornya, bikin saya iri, pengen juga, hahahahaha… ^^
    Prima´s last [type] ..Kisah Desktop dan Laptop

  20. advertiyha
    Twitter:
    says:

    Alhamdulillah,, syukurlah kenekatadannya selamat mbak, hehehe…
    tapi, salute buat perjuangan mbak n suami.. :) sukses terus ya….

  21. [...] Mengapa ? Karena pada saat menggelar kuis ini secara bersamaan pas dengan urutan tampilnya artikel Perjalanan Nan Tak Terlupakan yang dikirim oleh si bangau putih. [...]

  22. bangauputih
    Twitter:
    says:

    @prima: hehe ,mudik naik motor ma suami itu impian saya sejak menikah mas, :-)
    @mba lyHa: iya mba, alhamdulillah kami selamat sampe di tujuan.
    bangauputih´s last [type] ..Gundulz Twins

Bad Behavior has blocked 1730 access attempts in the last 7 days.