Beraninya Rame-rame
Surabaya, tahun 1972.
Aku melangkah pasti, dilorong jalan menuju ruang tamu asrama putri sebuah rumah sakit.
Aku tampak gagah dengan pakaian dinas harian berwarna khaki lengkap dengan atribut berupa chevron mengkilat, topi dengan emblem yang ter-brasso mengkilat, sabuk kecil hitam juga tersemir mengkilat dengan timangan terbrassso blink..blink..blink plus sepatu pdh warna hitam yang juga tak kalah mengkilat. Semuanya rapi, mengkilat. pas, proporsional dan padu-padan.
.
Tinggal beberapa langkah dari ruang tamu. Tiba-tiba dari arah jam 13.00 terdengar suara cewek-rame-rame berteriak, nadanya seolah pelatih baris-berbaris : ” Satu..dua..tiga..kiri..kanan..kiri…kanan…kiri…kanan…….ha ha ha ha ha ha”.
Teringat pesan senior ” Jika berjalan, jangan memutar lehermu sampai lebih dari 45 derajat. Lebih baik hadapkan tubuhmu jika ingin melihat sesuatu, atau cukup melirik !!”.
Sayapun melirik kearah datangnya suara. Busyeeeeeeetttttttttttt.
Sekelompok cewek duduk dipinggir jendela yang terbuka, ditingkat dua asrama putri. Ah…itu pasti kamar mereka. Dari jauh sih kayaknya bening-bening. Tapi saya cuek saja karena toh sebentar lagi bakalan bertemu si dia setelah 6 bulan tak kutengok karena saya harus menunggu cuti tahunan.
Setelah mengisi buku tamu, sayapun duduk di tempat yang telah disediakan, menunggu si dia.
” Apel berseragam bhoooooooooooooo……….”. Suara koor itu mengagetkanku.
Busyeeeeettttttttttttt…… 6 cewek yang tadi duduk di pinggir jendela kini sudah turun dan berada di ruang tamu dan langsung ngacir lagi sambil tertawa rame-rame.
Salah satu cewek yang bodynya termasuk klas Bmw ( bahenol-montok-weleh-weleh ) menoleh kearahku, tersenyum sambil meletakkan tangan kanannya sejajar dengan jahitan celana dan memberi tanda kecil – awe-awe.
Ahhhh….dimana-mana…..beraninya kalau rame-rame .
Kalau berani hayo bertemu berdua saja. Ini dadaku, mana dadamu !!!!
.
.


32 Comments
Skip to Comment Form ↓