Tangis Ibu, Lima Belas Tahun Yang Lalu
Senin, 10 Juni 1996, menjadi awal dari hari-hari yang tak mudah dilupakan. Begitu berkesan, seakan hari itu adalah milikku dan ketiga sahabatku, lulusan terbaik dari masing-masing program studi. Kuingat jelas raut wajah ibu yang terkejut, bertanya tanpa kata, menatap tak percaya padaku, ketika pembawa acara meminta beliau dan tiga wali murid lainnya tampil mendampingi kami yang sudah lebih dulu berdiri di panggung. Gemetar langkahnya, keringat dinginnya begitu nyata. Jelas aku melihat beliau tak kuasa menahan tetes air matanya. Entahlah, mungkin seharusnya menyesal karena tak pernah memberi tahu sebelumnya, tapi yang pasti saat itu aku justru ‘bangga’, karena air mata ibu adalah air mata bahagia. Read More »


