Tips jitu memegang burungmu

.
” Mengasuh anak itu seperti memegang burung. Jika memegangnya terlalu kencang dia akan sulit bernafas, tetapi jika memegangnya terlalu kendor maka si burung akan lepas “.
Itulah antara lain nasihat yang pernah saya dengar dari salah seorang sesepuh yang anaknya hanya 7 dan sukses menjadi “orang” semuanya.
Adalah seorang tetangga, yang anaknya hanya satu, laki-laki. Tamatan S-2, yaitu SD dan SMP. Anak tetangga itu umurnya sebaya denganku. Walaupun hanya tamatan SMP tetapi dia mampu menjalankan usaha dagang dengan sukses. Sudah berapa hektar sawah bapaknya yang dia jual, belum sepeda motor dan perhiasan ibunya. Dan uangnya amblas di meja judi.
Ini merupakan bentuk salah asuhan, salah mendidik anak. Terlalu memanjakan, melupakan pilar penting dalam kehidupan manusia yaitu pendidikan agama dan pendidikan ilpengtek.
.
Bagi mas Bayu dan isteri yang baru saja merayakan milad pernikahannya yang pertama, tentu sudah ingin menimang anak,bukan.
Dan kata orang, mendidik anak sudah harus dimulai sejak anak dalam kandungan ibunya. Pendidikan itu memang tidak secara langsung tetapi di transfer melalui perilaku baik dari kedua orangtuanya. Jika kedua orangtuanya suka bersedekah, Insya Allah energinya akan sampai kepada si-anak yang kelak mudah-mudahan bisa menjadi orang yang budiman dan dermawan.
Mendidik anak jaman dulu dengan jaman sekarang tentu berbeda lagak dan gayanya. Karena jaman sudah berubah, musimpun telah berganti.
Dulu, ketika emak melihat kearahku yang sedang asyik mendengarkan perbincangan beliau dengan tamunya, maka saya sudah mengerti bahwa saya harus segera hengkang dari arena itu. Bukan ndomblong mendengarkan orangtua berbincang ria.
Ketika saya masih asyik main badminton dengan raket terbuat dari bakiak kayu dan shutlle cocknya terbuat dari pelepah daun kelapa plus bulu ayam blirik, dari jauh ayah berkata : ” Ambil lampunya nich !!”. Saya sudah mahfum bahwa saya harus segera menghentikan kegiatan itu karena sebentar lagi adzan maghrib akan segera berkumandang.
Sekarang, ketika melihat keponakan saya sedang asyik sms-an, sementara budhenya sedang sibuk mencuci piring di dapur, saya memberi kode dengan suara : ” Ssssstt..sssst.ssst “, lha dia dengan santainya berkata : ” Apaan sih pakde… sat..set..sat..set mulu “. Dan tanpa sungkan dia terus melanjutkan sms-nya. Lho beda kan peringainya dengan peringaiku dulu.
Mendidik anak jaman sekarang jangan terlalu banyak kode atau basa-basi, tapi langsung saja : ” Nduk, bantu budhemu nyapu donk !!”. Straight to the point, tanpa basi-basi.
.
Bagaimana mendidik anak ketika masih kecil ?
Wow, anda harus mengerti bahwa anak bukanlah manusia dewasa dalam ukuran kecil. Dia tetap anak-anak dengan segala hobi dan kegemarannya. Jika dia mengambil semut lalu memasukkan kedalam mulutnya, itulah dia, si anak kecil. Ketika dia dengan riangnya mencoretkan spidol di tembok dengan gaya naturalis atau hancurisme, lha itu dia, wujud expresi keberaniannya menggoreskan sesuatu ke tembok atau sprei.
.
Jika anda berteriak menggelegar : ” Hoi, monyet, jangan coret-coret tembok !!”, maka anda sudah melupakan sejarah bahwa andapun pernah berbuat serupa ketika masih usia balita dulu. Arahkan hobi coret-mencoret itu kearah yang benar. Belilah buku gambar dan bimbinglah dia untuk menyalurkan hobinya itu kearah buku.
.
Jangan berkata buruk
Ketika anak anda masih asyik main game online dan belum juga belajar, lalu anda berteriak : ” Anak iblis, emangnya kamu mau menjadi jambu monyet, kepalamu dibawah dan badanmu diatas. Kugantung di pohon jambu itu baru nyaho kamu !!”
Anak anda bukan saja ketakutan karena anda ancam dengan menggantungnya di pohon, tetapi juga takut karena ternyata dia anak iblis, sambil memandang wajah anda yang sedang menyeringai bengis.
Jangan mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas kepada anak-anak, jika dia terus menerus mendengarkan kata buruk maka kelak dia juga akan mengeluarkan kata atau kalimat yang senada dan seirama dengan apa yang selama ini dia dengar.
Akan lebih enak dihati jika kalimat yang anda keluarkan dirubah menjadi : ” Ayooo, main gamenya berhenti dulu, waktunya belajar lho. Katanya mau jadi guru kayak Pakde Mars “.
.
Reward and punishment
Bagaimana dengan reward and punishment untuk anak-anak ? Yup, bisa diterapkan secara bijak, terukur dan terarah.
Konon, seorang aktor luar negeri yang sangat terkenal, mempunyai perilaku yang aneh. Jika anaknya lupa meletakkan sepatunya di rak sepatu, maka si aktor berbody kekar ini langsung melempar sepatu anaknya itu ke dalam api yang sedang menyala- membakarnya. Ini adalah perilaku dzolim, memberi hukuman yang berlebihan kepada anak yang tak setimpal dengan kesalahannya.
Jika anak melakukan pelanggaran, hal pertama kali yang harus dilakukan adalah segera menghentikan pelanggaran itu, memberinya tegoran, peringatan dan jika tetap tak bisa dihentikan berikanlah hukuman setara dengan kesalahannya. Tujuan pemberian hukuman adalah untuk memperbaiki kesalahannya, bukan untuk menyakiti dan membencinya.
Yakinkan bahwa anak-anak aman dalam pelukan dan cintamu.
.
Bakat dan minat anak
Setiap anak umumnya mempunyai minat dan bakat. Sebagai orangtua tentu perlu memperhatikan minat dan bakatnya lalu membimbing dan mengarahkan agar minat dan bakatnya berkembang dengan baik.
Jika anda berkata : ” Kamu harus menjadi dokter, seperti bapakmu ini nak !!”. Padahal si Dewi telah berkali-kali menjuarai lomba merancang busana dan sudah berkali-kali pula memohon agar dirinya bisa melanjutkan studinya dibidang fashion. Apa artinya ? Anda hanya mengerti hak tetapi tidak mengerti kewajiban sebagai orangtua.
.
Teladan itu penting
Ketika anda menyuruh si anak : ” Hey, apakah kamu nggak dengar suara adzan itu ? Cepat gih berangkat ke masjid !!”, maka akan ada dua kemungkinan tindakan yang dilakukan oleh si anak.
1. Segera berangkat ke masjid.
2. Melihat anda sejenak, lalu bertanya : ” Ayah nggak ke masjid ?”. Jika anda menjawab : ” Saya sholat di rumah saja, nanggung nich acara infotainment lagi asyik-asyiknya “.
Si anak mungkin akan berangkat ke masjid, tetapi sambil berkata : ” Jarkoni – iso ujar, gak iso nglakoni “, artinya : ” Ayah hanya bisa ngomong doank tapi gak bisa menjalankannya “.
Orangtua harus menjadi idola, panutan dan teladan bagi anak-anaknya.
.
Nak Uzlifahtul Fitriah dan nak Arif Bayu Arief Bayoe Sapoetra,
Anak adalah amanah Allah Swt, banyak kegiatan yang harus kalian laksanakan agar amanah itu bisa kalian emban dengan sebaik-baiknya.
Salah satu kegiatan dalam rangka mengemban amanah itu adalah memberi nama yang baik kepada anakmu. Jangan memberi nama yang aneh yang kalian sendiri tidak tahu artinya. Nama adalah doa dan harapan dari orangtua bagi si anak.
Bayu yang menamakan blognya FLASH, jangan latah memberi anakmu dengan nama asing misalnya Land Crocodile agar tampak gagah. Sementara Uzlifahtul Fitriah, walaupun namamu indah dengan bahasa Arab, jangan memaksakan diri memberi nama anakmu Annisah Munafiqun. Wah..wah..waaaaaaaah…ancur…ancur..ancur…
Selamat mensyukuri usia pernikahan kalian, semoga Allah Swt memberikan ridho-NYA dan mempersatukan kalian berdua dalam kebaikan.
Untuk nak Fitriah, selamat mensyukuri usiamu yang sudah 20 tahun, semoga karunia Allah Swt selalu tercurah untukmu dalam setiap tarikan dan hembusan nafasmu nduk.
Amin ya rabbal ‘alamin
Wis yo nak, matur nuwun.
Artikel ini diikutsertakan dalam acara April Mei Bayu Family Berbagi
.




46 Comments
Skip to Comment Form ↓