Tumpeng Ngetril Gate
Setiap mendengar, melihat dan atau membaca huruf Tumpeng, saya selalu teringat akan peristiwa kenduri di mushola sekitar tahun 1963 an, waktu itu saya masih duduk dikelas 5 Sekolah Rakyat. Kejadiannya juga pas bulan Ruwah. Orang sekampung menyebutnya Ruwahan yaitu membawa tumpeng untuk dikepung bersama-sama di mushola.
Jika sholat, kami orang kampung selalu memakai kain sarung, kopiah dan baju hem atau kaos oblong ( tapi kaosnya tidak ada tulisan iklan Jamu Rapet Wangi, lho ). Listrik belum masuk desa, demikian pula program ABRI masuk desa belum diadakan. Pada umumnya penduduk memasang lampu tempel dirumah masing-masing, termasuk di mushola kakek saya.
.
Setelah sholat maghrib saya lihat ada dua tumpeng. Seperti biasanya tumpeng tersebut diletakkan ditampah yang dialasi daun pisang dan atasnya juga ditutupi daun pisang. Daun pisang ini nantinya digunakan untuk membungkus nasi dan lauk pauknya guna dibawa pulang sebagai oleh-oleh untuk orang rumah, kami menyebutnya berkatan.
Saya, dan beberapa teman sebaya sudah saling senyum dan mengerdipkan mata tanda saling mengerti bahwa pesta tumpeng akan menyenangkan, dan kami tahu langkah apa yang akan dilakukan.
Dari celah-celah penutup tumpeng, saya melihat ada ayam panggang dan aneka lauk yang lainnya. Wow, mantap tho, enak tho. Maklum dihari-hari biasa, lauk yang dihidangkan pada tumpeng tak jauh dari tahu,tempe, mi, urap dan rempeyek kacang. Malam ini ada ayam panggang yang mekangkang gagah perkasa karena tumpengan di bulan Ruwah menjelang Romadhon.
.
Begitu doa selesai, lampu teplok mushola tiba-tiba mati. Saya tidak tahu pasti apakah matinya lampu karena hembusan angin yang memang cukup kencang atau karena ulah para sahabatku.
Begitu mushola dalam keadaan gelap, kami berlima langsung mengadakan serbuan kearah tumpeng. Saya meraba-raba dalam kegelapan, ini dia, rasanya tangan sudah berada tepat pada sasaran yaitu tumpeng. Saya menyentuh suatu benda, saya raba dan saya rasakan. Ternyata benda itu terasa lembut, kok ada bulu-bulu halusnya, dan kulitnya juga terasa ada mruntusnya mirip tubuh anak ayam.
” Pasti ayam panggang”, pikir saya. Seketika benda tersebut saya tarik dengan maksud untuk mengamankannya, ayam panggang jangan sampai keduluan orang.
” Aduh..aduh, rek, jangan ditarik, hooooeeeeeee jangan ditarik , ini dengkul sayaa….”.
Lho, saya tersentak kaget tetapi langsung tertawa rame-rame, ha.ha..ha..ha, kirain ayam panggang, nggak tahunya dengkulnya Cak Markasan yang ketarik olehku. Pantes kok ada bulu-bulu halusnya.
Cak Markasan, tetangga depan rumah yang memimpin doa tadi langsung ndlosor karena dengkulnya nyaris copot saya tarik.
Dasar anak-anak, di musholapun masih nakal.
Tumpeng Ngetril Gate ini untuk menghibur sahabat yang sedang memikirkan ide untuk membuat tumpeng.




46 Comments
Skip to Comment Form ↓