Emak Over Protective Pwoll
.
Trauma dengan meninggalnya kakak saya (Marhamah) pada usia 2 tahun, menyebabkan emak menjadi over protective terhadap saya.
Tindakan over protective emak ini kemungkinan untuk menjaga agar saya tak sampai digigit nyamuk. Malam hari ketika saya tidur tak jarang emak melihat saya sambil membawa lampu teplok. Jika ada nyamuk yang berani menggigit si ganteng ini, wahhhh tak ada ampun deh, nyamuk berjenis kelamin apapun pasti langsung dilibas dan dimutilasi.
Padahal nyamuk naas itu belum tentu bersalah. Mungkin dia lagi asyik jalan-jalan di pipiku yang manis ini, lalu saya kruget-kruget bangun. Nah karena kaget maka nyamuk itu langsung reflex dan menggigit saya. Dengan demikian maka unsur ” dengan sengaja melakukan perbuatan tidak menyenangkan terhadap manusia yang sedang tidur ” sebenarnya tidak terpenuhi. Tetapi emak sudah terlanjut menuduh bahwa nyamuk itu pasti mau mengganggu dan menghisap darah segar saya.
Over protective terhadap anak satu-satunya ini diwujudkan dalam bentuk ” the don’t ” yang point-pointnya antara lain :
1. Dilarang pergi ke atau mandi di sungai Brantas. Sungai ini letaknya sekitar 50 meter dari rumah, baik sungai yang besar maupun sungai hasil sudetan yang ukurannya lebih kecil. Saya memang beberapa kali melakukan pelanggaran dengan mandi di sungai sudetan itu bersama teman-teman SR (SD). Asyik dan mengasyikkan. Anehnya mandi spa di sungai itu pasti ketahuan karena emak menempatkan banyak mata-mata yang “early warning, early detection and early reporting ~ nya” nauduzbillah canggihnya. Selain itu emak hafal betul ciri-ciri manusia yang baru saja mandi di sungai yaitu : mata merah, kulit mbesisik, rambut pathing jrawut dan bibir tampak al mbegedhud.
2. Dilarang penekan (panjat-memanjat pohon). Alasan utamanya adalah takut saya jatuh. Saya juga melakukan pelanggaran dan hasilnya memang jatuh beneran. Ketika sedang memanjat pohon mangga dibelakang rumah dahan yang terdapat mangga ranum itu patah. Saya jatuh ke tanah dengan sukses sampai pingsan. Emak menangis sambil tak lupa mencubit pahaku keras-keras. Tetangga sampai bilang : ” wong anaknya pingsan kok malah dicubit “. Pingsan kok tahu kalau dicubit, pakdhe ? Babahno tah.
3. Dilarang pergi ke kota Jombang. Jarak antara rumahku dan kota Jombang sekitar 8 km, jalan beraspal pajang 5 km dan 3 km sisanya merupakan jalan berdebu (kala itu). The don’t yang ini memang belum pernah saya langgar karena jaraknya memang agak jauh dan sahabat/tetanggaku tak ada yang berani mengajakku ke Jombang. Maklum emak tak segan-segan mendamprat siapapun yang mengusik ketenangan si ganteng ini. ” Jangan sekali-kali ke kota tanpa saya dampingi !!”, begitu titah emak.
Dengan over protective itu pula Emak pantang diberitahu atau mendapat kabar bahwa saya sakit. Jika mendengar my body is not delicious sedikit saja emak langsung menyatakan keadaan “siaga satu” dan beliau pasti segera meluncur ke TKP.
Suatu kali saya mengirim surat bahwa saya tidak bisa pulang karena sakit mata. Tak sampai 1×24 jam emak sudah tiba di kost-kostan saya ( di daerah Gubeng Masjid Surabaya- dekat RS. dr. Suoetomo )
“ooooo…tak kira matamu mendhul begitzuuuuu…ternyata hanya merah saja tho”, kata emak setelah melihat mataku yang merona warna merah. Saya tersenyum sambil melirik oleh-oleh yang dibawa sekaligus membayangkan bakal dapat tambahan angpao dari emak. Over protective kadang bisa juga dimanfaatkan ha ha ha ha.
.
.
.
Sodara-sodara sekalian,
Bisa anda bayangkan jika emak tinggal di kampus Akabri sekitar seminggu. Pasti emak akan melihat saya merayap, merangkak, loncat gagak, squat jump, push-up, pull-up, jalan jongkok, lari keliling kampus dan kegiatan fisik lainnya yang merupakan santapan kami sehari-hati. Pasti emak akan mengumpulkan para pelatih dan seniorku untuk diceramahi habis-habisan karena dianggap melakukan perbuatan yang tidak menyenangkan terhadap anak gantengnya ini.
Untungnya emak hanya datang sekali ke kampus Akabri yaitu ketika daku dilantik menjadi perwira oleh Presiden Soeharto.
Aach saya jadi teringat goresan penaku pada Buku Kenang-Kenangan Akabri 1974. Disana saya tulis kalimat: “Aku ingat emak menangis sedih ketika melepasku ke Lembah Tidar ini. Tetapi aku akan lebih ingat emak menangis bangga ketika melihat balok emas bertengger di pundakku “
Over protective emak merupakan salah satu wujud rasa sayang beliau kepada anaknya.
Bagaimana dengan orangtua para sahabat ?? Apakah juga over protective ?




63 Comments
Skip to Comment Form ↓