Dialog Dengan Panglima Besar

Dialog Dengan Panglima Besar merupakan salah satu bentuk komunikasi imajiner.

Setiap tanggal 22 Desember, sebagian besar orang Indonesia merayakan Hari Ibu.

Ibu ? Aku tak pernah memanggil wanita yang telah melahirkanku dengan sebutan Ibu. Sejak kecil hingga kini aku tetap memanggilnya dengan sebutan Emak. Dengan sebutan khas anak desa itu tak sedikitpun mengurangi rasa cinta, kasih sayang, hormat dan baktiku kepada Emak.

Emak, sebuah pribadi yang unik. Kombinasi antara kekerasan suara dengan kelembutan hati. Ketika sedang “tak enak hati”, suara kerasnya keluar. Namun tak jarang emak matanya berkaca-kaca manakala hatinya tersentuh.

Emak, tak jarang pula “menyalip di tikungan”. Ketika saya mempunyai ide, kadang langsung dilibasnya : ” Nggo opo? Ojo ce-ceh duit !!” (Untuk apa ? Jangan buang-buang duit !!). Namun tiba-tiba saja emak sudah membeli genset~sesuatu yang tak sempat terpikirkan olehku untuk memback-up listrik yang kadang-kadang mati.

Emak pula yang berani memerintahkan seorang perwira muda dari satuan Polisi militer untuk berjongkok didepannya. Lalu sambil matanya berkaca-kaca diusapnya wajah perwira itu dengan ujung kain emak . Harap diketahui juga bahwa  Emak over protective pwoll terhadap anak tunggalnya.

Emak juga tak segan-segan menegur polisi yang sedang bertugas.: ” Pak, mau lebaran mbok jangan cegatan”, sambil emak melarikan diri dari cegatan polantas. Pak Polantas hanya tersenyum sambil geleng-geleng kepala.

Emak, untuk anak semata wayangnya ini, apapun dikerjakan sepanjang itu bermanfaat. Suatu ketika, di depan mataku emak melepas cincin dari jari manisnya : ” Cincin ini untuk uang sekolahmu”.

Sekalipun saya sudah punya cucu emak masih sering memberikan uang setelah panen sawahnya. ” Ambilllah, supaya merasakan hasil penenku. Ini rejekimu kan !”. Namun pernah juga emak akan membanting laptopku ketika Bella jatuh dari tempat tidur sementara saya sedang asyik ngeblog di dekat tempat tidurnya.

Emak pula yang membereskan persoalanku ketika mendung menggantung menjelang pernikahan anakku.

Lalu apa yang telah kuberikan untuk beliau? Kolam renang untuk emak yang menjadi tambahan penghasilan selain uang pensiunan janda? Memberangkatkan emak naik haji ? Membuatkan dapur yang kata emak :  ” sak lapangan bal-balan” ?.

Saya rasa apa yang sudah saya berikan kepada emak belum sebanding dengan cinta, kasih sayang dan perhatian yang diberikan kepada saya sejak dulu hingga kini.

.

Dialog Dengan Panglima Besar

Emak pada acara peresmian Kolam Renang Tirto Agung 1997 ~ sebuah hadiah kecil untuk emak

 .

Bagaimana saya memandang emak dan cara emak memandang saya dan bagaimana pula saya dan emak membangun komunikasi ? Simak Dialog Dengan Panglima Besar  berikut ini.

.

Dialog Dengan Panglima Besar


Dialog Dengan Panglima Besar

Emak, aku sudah punya cucu

Jangan lagi kau marahi aku

Walau kau punya cucu

Kau tetap anakku


Emak, aku ini  purnawirawan jenderal bintang satu

Jangan kau atur-atur aku

Aku Panglima Besarmu

Masih punya hak mengaturmu


Emak, sudah  61 tahun lebih umurku

Jangan ikut campur urusanku

Aku lebih tua dari kamu

Urusanmu juga urusanku


Emak, aku sudah banyak ilmu

Jangan kau mengguruiku

Ilmumu tak  setebal kulit ariku

Aku tetap guru hidupmu


Emak, mengapa kau lakukan itu

Apakah kau tak mempercayaiku

Karena engkau adalah anakku

Mutiara dalam hidupku

*****


Emak

Peranmu tak pernah tergantikan

Terima kasih, mohon doa restu Emak selalu.

Agar lurus jalan hidupku

.

Pencil sketch Emak  : courtesy mas Vyan RH.

Dialog Dengan Panglima Besar ini dipublish dalam rangka memperingati Hari Ibu .Dialog Dengan Panglima Besar

Buy and Sell text links

Tags: , , Dialog, Hari Ibu, Panglima Besar,

Bad Behavior has blocked 1736 access attempts in the last 7 days.