Harga Pas Membuat Belanja Puas
xxxxxxxxx0976
.
Saya lebih suka berbelanja ke toko yang memasang harga pas karena tak harus tawar-menawar terlalu lama.
Pertama kali mengenal mesin kasir canggih ketika saya sedang mengikuti pendidikan di USAICS Fort Huachuca Arizona~USA.
Di kampus tersebut terdapat dua tempat yang menyediakan berbagai keperluan siswa/pelajar, termasuk para instruktur dan keluarganya. Yang pertama adalah commissary yang menyediakan kebutuhan dapur mulai sembako, daging,ikan, buah-buahan, roti-rotian dan aneka bumbu. Sedangkan untuk membeli pakaian, sepatu, kosmetik, parfum, jaket, alat elektronik dan sebagainya kami bisa berbelanja di PX (Post Exchange)
Setiap berbelanja di commissary dan atau di Post Exchange saya yang orang ndeso ini awalnya terkagum-kagum melihat kecekatan kasir menangani jual-beli ini. Barang yang sudah saya beli tinggal di dekatkan dengan mesin kasir dan keluarlah harga barang di layar monitor. Belakangan saya ketahui bahwa pada barang yang dijual itu telah dipasang barcode. Dengan cara ini maka proses jual beli menjadi lebih cepat dengan harga pas.
Hal ini berbeda dengan apa yang dilakukan oleh seorang pemilik toko di kampung saya, sebut saja namanya mbak Tukeni (di Facebook namanya menjadi Two Knee). Ketika saya membeli rokok 5 pak, Yu Tukeni menghitung jumlah yang harus saya bayar bukan menggunakan mesir kasir, kalkulator atau sipoa tetapi harga tersebut ditulis di secarik kertas berurutan kebawah. Selaku konsumen saya merasa gemes melihat kelambanan kerjanya.
” Mbak, kok ditulis kayak gitu, bukannya lebih cepat kalau dikalikan saja 5X Rp.11.250 “, tegur saya. Si Mbak sambil malu-malu berkata : ” Mboten saged, Mas Lik “. Ooooo…pantas…mungkin dulu mbayar uang sekolahnya pakai bothokan lele. Ha ha ha ha..
Benarkah mesin kasir dan barcode itu yahud dan tanpa cela? Ataukah dua pasang alat itu menganut juga adagium yang berbunyi : ” Not the gun, but the man behind the gun”. Untuk membuktikannya saya melakukan survai di sebuah supermarket yang tak jauh dari rumah.
Pertama saya mengamati apakah semua barang sudah dilengkapi dengan barcode. Hasilnya masih ada barang yang terlewatkan tanpa ditempeli barcode antara lain sayuran. Akibatnya mbak kasir harus membuka “buku pintar” dan mencari harga sayuran itu. Lalu secara manual diketikkan di mesin kasir. Mungkin manusia yang bertugas menempel barcode tidak melakukan cek ulang setelah pekerjaannya selesai. Walaupun barang yang tanpa barcode hanya beberapa saja namun tentu agak sedikit menghambat pekerjaan kasir.
.
.
.
.
Mungkin ada sahabat yang bertanya tentang apa itu barcode ? Saya tunjukkan dua definisi tentang barcode agar para sahabat yang belum pernah membaca istilah ini menjadi faham.

Dengan adanya label ini maka proses jual-beli menjadi lebih cepat dibandingkan dengan penghitungan jumlah yang harus dibayar secara manual. Disinilah antara lain letak kenyamanan berbelanja dengan harga pas dibandingkan dengan proses jual-beli dengan cara tawar-menawar seperti di pasar hewan.
.
.
Pada survai berikutnya saya ingin mengetahui apakah barcode benar-benar terbaca oleh scanner yang dipasang di mesin kasir. Ternyata juga ada yang bungkam. Ketika sebuah barang di dekatkan ke scanner di mesin kasir lha kok bunyinya hanya :” Cess..Ces..ces !!”. Mbak yang bertugas sebagai kasir lalu memencet tombol clak-clik-cluk dan keluarlah harga sebungkus coklat. Ketika saya tanya mengapa harga barang itu diketik secara manual. Mbak kasir yang berukuran 36B (sandalnya) itu menjelaskan : ” Tulisan kodenya terlalu kecil pak sehingga payah karena tidak terbaca”. Lalu saya melanjutkan dengan pertanyaan pengejaran ~ niru NiQue : ” Lha mengapa kok tulisannya nggak dibuat besar ?”. Mbak kasir tersenyum : ” Kalau besar njebablah donk, lagian pula kan tergantung pabriknya, Pak “, sambil terus mengurusi barang belanjaan saya.
Saya manggut-manggut, kalau barangnya kecil diberi label besar pasti njebablah karena kegedean.
Supaya sahabat tidak bingung wal curiga perlu saya jelaskan bahwa yang dimaksud dengan besar-kecil itu adalah ukuran barcode. Semakin kecil ukuran label maka semakin kecil pula ukuran barcode.
Jika label berisi barcode oke-oke saja maka ketika discan hasilnya akan tampak di layar monitor mesin kasir. Namun jika scanner tak berbunyi maka kasirpun beraksi dengan cara mengetik secara manual.

.
Artikel ini diikutsertakan dalam Kontes Cerita Unik Belanja di BloggerPemula.Com.
Tags: barcode, harga barang, Harga pas, mesin kasir barcode, harga barang, Harga pas, mesin kasir,














74 Comments
Skip to Comment Form ↓