Rekening Gendut Diselidiki
Tirto Grono merasa kesal, malu dan marah. Dalam kemarahannya akhirnya laki-laki yang disegani di kampungnya itu menginstruksikan anaknya yang sedang bekerja di Jakarta untuk segera pulang pada kesempatan pertama.
Tirto Grono memasang wajah angker dan menatap tajam mata anaknya yang tampak bengong penuh tanda tanya.
” Bapakmu isin, malu, sampai-sampai saya merasa bokong ini bak duduk di atas bara api setiap kenduri di rumah tetangga. Sejak kecil bapak sudah mendidikmu dengan benar agar kamu tak salah jalan. Ketika engkau akan berangkat ke Jakarta bapak juga sudah wanti-wanti mengingatkan agar engkau tak silau dengan harta, tahta dan wanita. Mengapa ? Karena bapak ingin agar kamu bukan saja selamat di dunia tetapi juga terhindar dari jilatan api neraka kelak. Tapi telingamu tampaknya seperti terowongan, nasihat bapak masuk dari telinga yang satu dan lalu keluar dari telinga yang lain “, Tirto Grono mengawali kultum di depan anak laki-laki yang masih menampakkan wajah tak berdosa. Lanjutkan

