Akhmad Muhaimin Azzet : Profil Sang Juri

Akhmad Muhaimin AzzetJuri pada Kontes Unggulan:Aku dan Indonesia adalah seorang blogger yang kegiatannya buanyak pwol.  Berikut profilnya.

Akhmad Muhaimin Azzet, lahir pada 2 Februari 1973 di Jombang, Jawa Timur. Belajar agama Islam, terutama fiqh, pertama kali kepada ibunya yang seorang guru dan salah satu santri KH. Bisri Syansuri, pendiri Pondok Pesantren Mambaul Ma’arif, Denanyar, Jombang. Pendidikan formalnya ditempuh di MI Tarbiyatul Huda, Sumberwinong; MTsN Plandi, Pandanwangi; dan PGAN Jombang. Selain itu, juga pernah nyantri di Pondok Pesantren Sunan Kalijaga, Kaliwungu, dan Pondok Pesantren As-Salam, Peterongan; keduanya di Jombang. Selanjutnya, pada tahun 1992, kuliah di Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, dan selesai pada tahun 1999. Baca selengkapnya

Kontes Unggulan: Aku Dan Indonesia

Indonesia adalah negara besar dengan jumlah penduduk lebih dari 200 juta orang. Selain memiliki sumber daya manusia yang banyak, Indonesia juga mempunyai sumber daya alam yang berlimpah. Bukan hanya itu saja, di negeri nan elok ini juga terdapat aneka ragam suku, agama, bahasa, dan budaya.

Sebagai warga negara Indonesia selayaknya kita bangga dan mencintai tanah air yang dijuluki Zamrud Katulistiwa ini.  Kecintaan itu tentu tak cukup hanya dengan berteriak, “Aku Cinta Indonesia,” tetapi juga diikuti dengan sikap dan tingkah laku yang mencerminkan kebanggaan dan kecintaan tersebut. Baca selengkapnya

Indonesia Menjadi Lebih Baik

Para capres-cawapress sepakat untuk membawa Indonesia menjadi lebih baik. Apapun visi dan misi mereka pasti arahnya positif yaitu menuju cita-cita proklamasi sebagaimana diamanatkan dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945. Itulah sebabnya saya akan mendukung presiden terpilih, siapapun orangnya.

Saya dan para sahabat lahir setelah Indonesia merdeka. Dari pelajaran sejarah kita ketahui bagaimana orang-orang Indonesia terdahulu berjuang untuk memerdekakan negeri nan elok ini. Sebagai seorang militer saya membayangkan bagaimana beratnya perjuangan mereka. Dari segi K3I (Komandali, Kendali, Komunikasi dan Informasi) saja saja sudah jelas sulit. Bagaimana Pangeran Diponegoro, Teuku Umar, Sultan Agung, dan para pejuang jaman dulu mengomando dan mengendalikan pasukannya. Alat komunikasi radio jelas belum ada. Baca selengkapnya