Sebulan 4 orang
Pada bulan April ini setidaknya saya sudah menerima 4 sms yang isinya berita duka. Ya, 4 orang teman se-angkatan menghadap Sang Maha Kuasa karena sakit. Ada yang pangkatnya bintang dua, ada juga yang melati 3 . Semuanya sudah pensiun. Mereka tinggal di Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Surabaya.
Berita duka seperti itu hampir tiap bulan saya terima dari Sekretaris Paguyuban dan dipancar-luaskan melalui sms oleh sahabat yang lainnya.
Dilihat dari usia, sahabat satu angkatan adalah kelahiran 1948 – 1953, mayoritas kelahiran 1950 dan 1951. Ini berarti mereka ada yang berumur 63 tahun dan ada juga yang baru berumur 58 tahun.
Tapi umur bukanlah patokan, kapan seseorang akan menghadap Illahi. Karena soal meninggal dunia tidaklah tergantung kepada :
1. Berapa umurmu.
Kakak saya meninggal dunia pada umur 2 tahun, Adiknya Ipung malahan baru berumur 6 bulan sudah mendahului kakak-kakanya. Sementara ibu yang melahirkannya sampai saat ini masih sehat. Tak ada aturan bahwa yang meninggal dunia harus yang tua dulu, ABG dan balita belakangan.
2. Siapa kamu.
Jenderal atau kopral, dokter atau asisten apoteker, direktur atawa kondektur, blogger atau kiper, juragan atau pelayan, musisi atau penyanyi, semuanya akan meninggal dunia sesuai jadwal yang sudah ditentukan. Tak bisa mendahului atau minta ditunda. Semuanya sudah di stel.
3. Sedang apa kamu.
Ada yang meninggal dunia di rumah sakit, digulung ombak, diterjang bom, dalam tawuran, dirumah ketika sedang sholat, di atas gunung dan lain sebagainya. Tak ada tempat yang aman ketika malaikat pencabut nyawa sudah datang.
Tugas kita.
Bersiap diri.
.

