Lomba MAPEN 2011 : Akhir sebuah penantian
Panggung ditata dengan nuansa sebuah ruang tamu sederhana.
.
Nyanyi Raki, wanita berusia 83 tahun itu tampak sedikit tegang. Seorang laki-laki berpakaian necis duduk persis di depannya. Di atas saku baju laki-laki tersemat lencana berwarna kuning keemasan. Nyai Raki sebentar-sebentar memperbaiki duduknya.
Nyai Raki : ” Hanya itu pak Lurah yang saya mohonkan bantuan kepada Bapak. Saya tidak minta santunan, bantuan atau piagam, apalagi sebuah tanda jasa. Kematian suami saya adalah sebuah resiko perjuangan. Kalimat ” Sadhumuk bathuk, sanyari bumi dilabuhi taker pati “ yang disampaikan suami saya kepada para muridnya waktu itu sesungguhnya adalah bentuk pemompaan semangat agar para murid sudah mempunyai kesadaran bela negara sejak dini “
Airmata nyai Raki mulai menetes perlahan, terbayang peristiwa beberapa puluh tahun yang lalu. Di sebuah kelas sekolah ongko loro Nyai Raki memeluk jasad suaminya yang bersimbah darah. Empat orang polisi penjajah telah memberondong suaminya yang saat itu tengah melakukan tugasnya sebagai guru.
.
Nyai Raki tengadah : ” Hampir 60 tahun saya menunggu dan menunggu permohonan saya itu dikabulkan oleh Pak Lurah. Sudah 10 Lurah yang silih berganti memimpin desa ini sejak surat permohonan itu saya ajukan. Jika nama jalan di depan sekolah dimana suami mengajar dan mati ditembak kaum penjajah diberi nama Jl. Bela Negara itu bukan karena saya ingin agar semua orang mengingat kematian suami saya Pak. Bukan…bukan itu tujuan saya. Dengan dipasangnya papan nama Jl. Bela Negara disana saya hanya menginginkan anak-anak desa ini mencintai negaranya, rela dan ikhlas mendharma-baktikan jiwa dan raganya untuk kejayaan tanah tumpah darahnya “. Read More »


