Lompatan Spektakuler Shinta dan Jojo

*

Ada yang bercita-cita jadi foto model

Tak sedikit yang ingin jadi bintang iklan

Banyak pula yang ingin jadi pengamat politik

Yang pengin jadi penyanyi ngeTop  juga tak terhitung

Yang sabar menunggu audisi untuk menjadi artis sinetron  pun tak sedikit Read More »

Pemeran Cadangan

Tahun lalu, ketika diminta untuk menjadi khatib Sholat Idul Fitri di Masjid At-Taqwa di kampung, saya minta kepada Takmir masjid untuk menyiapkan khatib cadangan. Kontan pak Modin (sekarang namanya Kaur Kesra) menjawab ” Wah, sudah yakin kok, Mas Lik  kan sehat-wal afiat, jadi ya nggak usah ada khatib cadangan “. Saya mengambil nafas sebentar ” Wak Modin, kalau Tuhan menghendaki, apapun bisa terjadi. Sholat Idul Fitri ini penting lho, jangan main-main. Kalau tiba-tiba saya mules wal mencret bagaimana ? Pasti akan geger dunia ini karena sholat Id nggak ada khutbahnya, pokoknya saya minta ada khatib cadangan “.  Saya tidak tahu apakah takmir dan Pak Modin menyiapkan cadangan atau tidak.  Namun Alhamdulillah semuanya berjalan lancar. Read More »

Siapa berbuat apa.

Para sahabat sudah saya ajak untuk membayangkan kekejaman para penjajah, baik dimasa penjajahan Belanda maupun Jepang, membayangkan bagaimana situasi menjelang, sewaktu dan setelah proklamasi, termasuk tentang paskibraka 17-8-1945. Maka marilah kita cermati beberapa tokoh yang perannya cukup penting dalam proklamasi kemerdekaan Indonesia. Read More »

Detik-Detik Proklamasi

Sesuai janji tadi pagi, sekarang akan saya ajak para sahabat untuk membayangkan susana Jakarta pada hari Jum’at tanggal 17 Agustus 1945. Tadi sudah saya katakan bahwa sebelum pengibaran Sang Saka Merah Putih oleh paskibraka mini ,  acara di Jalan Pegangsaan Timur 56 Jakarta didahului dengan pembacaan teks Proklamasi oleh Bung Karno.

Suasana waktu itu tentu sangat jauh berbeda dengan apa yang kita lihat di televisi setiap tahunnya. Upacara Peringatan Detik-Detik Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di Istana Merdeka pada  masa kini berlangsung sangat megah yang dihadiri ribuan orang. Pembaca naskah proklamasi  pada acara 17-an sekarang sudah dialokasikan untuk Ketua MPR yang melambangkan wakil-wakil rakyat.

Sekarang silahkan menyimak cerita dari El Shinta tentang acara pembacaan teks proklamasi kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 di Jalan Pegangsaan Timur 56 Jakarta.

——-

PEMBACAN TEKS PROKLAMASI

Sementara itu, rakyat yang telah mengetahui akan dilaksanakan Proklamasi Kemerdekaan telah berkumpul. Rumah Soekarno telah dipadati oleh sejumlah massa pemuda dan rakyat yang berbaris teratur. Beberapa orang tampak gelisah, khawatir akan adanya pengacauan dari pihak Jepang.

Matahari semakin tinggi, Proklamasi belum juga dimulai. Waktu itu Soekarno terserang sakit, malamnya panas dingin terus menerus dan baru tidur setelah selesai merumuskan teks Proklamasi. Para undangan telah banyak berdatangan, rakyat yang telah menunggu sejak pagi, mulai tidak sabar lagi. Mereka yang diliputi suasana tegang berkeinginan keras agar Proklamasi segera dilakukan. Para pemuda yang tidak sabar, mulai mendesak Bung Karno untuk segera membacakan teks Proklamasi. Namun, Bung Karno tidak mau membacakan teks Proklamasi tanpa kehadiran Mohammad Hatta.

Lima menit sebelum acara dimulai, Mohammad Hatta datang dengan pakaian putih-putih dan langsung menuju kamar Soekarno. Sambil menyambut kedatangan Mohammad Hatta, Bung Karno bangkit dari tempat tidurnya, lalu berpakaian. Ia juga mengenakan stelan putih-putih. Kemudian keduanya menuju tempat upacara.

Marwati Djoened Poesponegoro ( 1984:92-94 ) melukiskan upacara pembacaan teks Proklamasi itu. Upacara itu berlangsung sederhana saja. Tanpa protokol. Latief Hendraningrat, salah seorang anggota PETA, segera memberi aba-aba kepada seluruh barisan pemuda yang telah menunggu sejak pagi untuk berdiri. Serentak semua berdiri tegak dengan sikap sempurna. Latief kemudian mempersilahkan Soekarno dan Mohammad Hatta maju beberapa langkah mendekati mikrofon.

Dengan suara mantap dan jelas, Soekarno mengucapkan pidato pendahuluan singkat sebelum membacakan teks proklamasi.

“ Saudara-saudara sekalian ! saya telah minta saudara hadir di sini, untuk menyaksikan suatu peristiwa maha penting dalam sejarah kita. Berpuluh-puluh tahun kita bangsa Indonesia telah berjuang untuk kemerdekaan tanah air kita. Bahkan telah beratus-ratus tahun. Gelombangnya aksi kita untuk mencapai kemerdekaan kita itu ada naiknya ada turunnya. Tetapi jiwa kita tetap menuju ke arah cita-cita.

Juga di dalam jaman Jepang, usaha kita untuk mencapai kemerdekaan nasional tidak berhenti. Di dalam jaman Jepang ini tampaknya saja kita menyandarkan diri kepada mereka. Tetapi pada hakekatnya, tetap kita menyusun tenaga kita sendiri. Tetap kita percaya pada kekuatan sendiri. Sekarang tibalah saatnya kita benar-benar mengambil nasib bangsa dan nasib tanah air kita di dalam tangan kita sendiri. Hanya bangsa yang berani mengambil nasib dalam tangan sendiri, akan dapat berdiri dengan kuatnya.

Maka kami, tadi malam telah mengadakan musyawarah dengan pemuka-pemuka rakyat Indonesia dari seluruh Indonesia , permusyawaratan itu seia-sekata berpendapat, bahwa sekaranglah datang saatnya untuk menyatakan kemerdekaan kita.

Saudara-saudara! Dengan ini kami menyatakan kebulatan tekad itu. Dengarkanlah Proklamasi kami:

PROKLAMASI;

Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan Kemerdekaan Indonesia . Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain, diselenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Jakarta , 17 Agustus 1945. Atas nama bangsa Indonesia Soekarno/Hatta.

TEXT ASLI PROKLAMASI

Demikianlah saudara-saudara! Kita sekarang telah merdeka. Tidak ada satu ikatan lagi yang mengikat tanah air kita dan bangsa kita! Mulai saat ini kita menyusun Negara kita! Negara Merdeka. Negara Republik Indonesia merdeka, kekal, dan abadi. Insya Allah, Tuhan memberkati kemerdekaan kita itu“. ( Koesnodiprojo, 1951 ).

———-

Sahabat tercinta, itulah pelaksanaan acara proklamasi kemerdekaan Indonesia, begitu cepat-begitu singkat, begitu sederhana.  Tetapi sejak hari dan tanggal itulah kita menjadi bangsa yang merdeka.

Mari kita singsingkan lengan baju, kita satukan tekad dan semangat, untuk mengisi kemerdekaan sesuai bidang tugas dan kemampuan kita masing-masing.

Foto :

1.  e-dukasi.net (saat pembacaan Text Proklamasi oleh Soekarno)

2.  indonesianembassy.org.uk (Text Proklamasi yang diketik oleh Bapak Sayuti Melik ( Suami Ibu SK. Trimurti )

Bad Behavior has blocked 827 access attempts in the last 7 days.